Saranghanun Babo!

Tittle    :  Saranghanun Babo!

Author :  SRM @Ryominwook

Cast     : – Kang Yeonae (OC’s)

-Lee Hongki (FT Island)

-Choi Minhwan (OC’s)

-Min Jaewon (FT Island)

Length :  Oneshoot

Genre  :  Romance, Friendship

Rating :  PG-15

Notes   :  FF baru nih^^ semoga pada suka ya J Happy Reading Guys! NO PLAGIATOR AND NO BASHING!

***

Aku menyantap sandwichku malas. Sambil sesekali menatap iri dua makhluk didepanku. Ya, itu karena Jaewon dan Hongki sedang bercanda di depanku.ya aku tau,harusnya aku ikut berbaur dan tertawa bersama mereka. Tapi untuk apa? Yang ada membuatku sakit.

BINGO! Aku menyukai laki-laki di depanku. Bukan, bukan Choi Minhwan, tetapi Lee Hongki. Kalian tau sejak kapan aku menyukainya? sejak kami kelas satu sekolah dasar dulu. yaaa sekitar 12 tahun yang lalu. Saat itu mungkin terlalu aneh bagi seorang anak kecil yang baru belajar berhitung sudah mulai menyukai seorang namja. Tapi itulah aku!

“Yeonae-ah waeyo?” Tanya Minhwan membuyarkan lamunanku. Jaewon dan Hongki melihat ke arahku.

“E? gwenchana.” aku tersenyum kemudian kembali menggigit sandwichku.

“Ya! Yeon,” Hongki mencondongkan tubuhnya. Aku menatapnya bingung masih dengan mengunyah sandwichku.

“kau bawa sandwich? Kenapa tidak bilang?”

“E?”

“aku mau, tau!” Hongki mengambil kotak bekalku. Aku hanya bingung dengan kelakuan Hongki. Bukankah sedari tadi aku memang tengah memakan sandwichku? Ah~ aku lupa. Sedari tadikan dia bercanda dengan Jaewon.

“kau mau Jaewon?” tawar Hongki.

“bolehkah Yeonae?” tanyak Jaewon.

“tentu saja boleh! Ya kan?” celetuk Hongki. Aku hanya diam tak menjawab. Tidak. Aku tidak memperbolehkan ia memakan sandwichku!

Ku masukkan potongan terakhir sandwichku sambil melirik jam tanganku. “OWH!” pekikku. Membuat Hongki menghentikan gerakan tangannya untuk menyuapkan sepotong sandwich ke mulut Jaewon.

“owh! Akuw harus kew kewlas sewkarang! Annyeow!” aku bangkit dari dudukku, kemudian menyambar tasku dan berlari meninggalkan Hongki, Minhwan dan Jaewon. Setelah jauh meninggalkan kantin, aku memperlambat langkahku. Sejujurnya, jam masuk masih puluhan menit lagi. Aku hanya tak ingin melihat Hongki menyuapi Jaewon.

Jam menunjukkan pukul 05:00 sore dan seharusnya seoul university sudah sepi. Mungkin hanya meninggalkan beberapa anak pintar yang tengah sibuk dengan buku-buku di perpustakaan yang super lengkap itu. Aku memainkan kakiku. Setelah pelarian dari Hongki, Minhwan dan Jaewon tadi, aku tak pergi ke kelas melainkan ke sebuah taman. Tak banyak orang yang berada di taman ini. aku butuh sendirian. Setidaknya menjauhi Hongki walaupun hanya beberapa jam saja.

“siapa yeoja cantik penyendiri ini?” aku mendongakkan kepalaku, dan kudapati Minhwan tengah berdiri di depanku. Masih dengan tas yang menempel di bahunya. Aku tersenyum tipis yang dibalas senyum menawannya Minhwan. Aku menggeser tubuhku. Memberikan Minhwan tempat untuk duduk.

“kenapa kau ada disini Minhwan-ah?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan ke depan.

“seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kenapa seorang yeoja cantik bisa terdampar disini? Bukankah seharusnya ia terdampar di kelas?” aku tersenyum tipis mendengar kata-kata Minhwan yang cukup menggelitikku itu. Itu bukan pujian, tapi sindiran, hanya saja menggunakan bahasa yang halus.

“yeoja cantik ini sedang merasakan bagaimana rasanya bolos kuliah, dan rasanya menyenangkan.”

Hening. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambutku. Ku pandangi sepasang kekasih yang bercengkeraman tangan dengan hangat. Ah irinya…

“kesedihan ternyata menutupi wajah cantik seseorang ya?” aku menengok kearah Minhwan. Matanya menerawang ke depan. Sinar matahari bewarna jingga mengenai wajahnya. Kuakui, Minhwan memang termasuk laki-laki yang memiliki wajah tampan, tapi Hongki jauh lebih tampan dari pada Minhwan.

“jangan melihatku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku.” E? jatuh cinta? Aku membulatkan mataku kemudian memukul kepalanya.

“aw! Appo, nuna!”

“MWO? Nuna?!” aku memukul kepala Minhwan untuk yang kedua kalinya tapi Minhwan dapat menghindarinya. Minhwan tersenyum lembut.

“nah, beginikan lebih baik. aku lebih memilih kau memasang wajah marahmu dibanding wajah sedihmu.” Aku terdiam, ku lepas tanganku yang masih di genggam Minhwan.

Hening.

“mau pulang?” aku memandang wajahnya kemudian mengangguk.

Aku merapatkan mantelku. Malam ini udara sangat dingin dan si bodoh Hongki memintaku untuk bertemu. Aku melirik jam ditanganku. Ini sudah sangat telat. Kakiku terus melangkah dengan cepat, aku tak ingin Hongki kedinginan karena menungguku. Kulihat sosok laki-laki tengah bersender di dinding sambil memainkan kakinya. Aku berlari menghampirinya. Ditegakkan tubuhnya saat melihatku yang mulai mendekatinya, senyumnya mengembang seperti anak kecil mendapatkan hadiah yang diinginkannya.

“apa kau menungguku lama?” tanyaku sambil mengatur nafasku. Hongki hanya menggeleng kemudian tersenyum. “ayo ikut aku.” Hongki menarik tanganku.

“ya!ya! kita mau kemana?”

“sudah ikut saja.”

“ta-tapi kau akan membawaku kemana?”

“jangan bawel.sebentar lagi sampai.” Aku hanya diam, mencoba mengimbangi langkah kakinya yang lebar-lebar. Kami menaiki anak tangga yang sudah berlumut. Hongki terus menggenggam tanganku, sampai kami berada di atas sebuah gedung.Tempat ini…

“kau masih ingat tempat ini?” tanya Hongki yang sudah berada di sampingku. Aku hanya mengangguk kecil. Ini tempat kami bermain dan tempat persembunyian kami untuk menghindari omelan orang tua kami jika kami nakal atau mendapat nilai jelek.

Disini juga tempat kami tertawa. Menertawakan apa saja! Menertawakan orang-orang yang berkelakuan bodoh di bawah sana. atau apapun itu. Masa itu… aku ingin mengulangnya. Masa-masa dimana aku hanya mengenal Hongki dan begitupun juga Hongki. Tak ada wanita atau laki-laki lain.

“ternyata kau masih ingat tempat ini. aku pikir kau sudah melupakannya.” Hongki memasukkan tangannya ke saku mantel. Aku menatap wajahnya yang tengah menatap lurus kedepan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Hongki menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Matanya menatapku.

“kau tau, aku rasa tempat ini akan tetap menjadi tempat favoritku untuk selamanya.” Aku menatap lurus kedepan kemudian menarik nafas seperti yang dilakukan Hongki tadi kemudian menganggukkan kepala dengan semangat.

“kau benar.” Hongki berdiri dipinggiran bangunan kemudian merentangkan tangannya. Aku membulatkan mataku melihat apa yang anak bodoh itu lakukan.

“Yaa! Babo! apa yang kau lakukan?!” Hongki membalikkan tubuhnya mengahadapku. Matanya menyipit akibat senyumnya yang terlalu lebar.

“apa kau ingat,dulu kau pernah menangis karena aku. Waktu itu kau terlihat panik saat aku berdiri di pinggir bangunan seperti ini. Kau menangis sambil berkata ‘jangan lakukan hal konyol seperti ini Hongki-ah.turunlah.aku akan membelikan ice cream untukmu.’ Kau tau, padahal aku hanya berdiri, tapi kau malah mengira aku akan bunuh diri.” Blush. Kejadian itu adalah hal terkonyol yang aku lakukan. Hongki terkekeh kecil.

“hei Hongki! Turunlah.”

“ani. Aku tak akan turun kecuali kau melakukan hal yang kau lakukan waktu sekolah dasar dulu.”

“aku tidak mungkin bisa melakukannya lagi. Aku tak sebodoh saat aku berada di sekolah dasar dulu. Ya! Turunlah.”

“ayo lakukan untukku. Aku janji setelah itu aku akan turun.”

“turun! Kalau kau tak mau turun juga, aku akan pergi meninggalkanmu disini dan jangan harap aku akan membuatkan makanan lagi untukmu!” Hongki menghembuskan nafas sambil memasang wajah kecewa.

“kau menyebalkan! Bagaimana bisa aku ditinggal sendirian olehmu disini? Apalagi kau mengancamku dengan makanan!” Hongki meloncat turun. Aku tersenyum penuh kemenangan. Kemudian menatap langit.

“Yeon,”

“mmm…?” gumamku masih enggan mengalihkan pandanganku.

“rasanya jatuh cinta itu…bagaimana?” tanya Hongki, membuat aku mau tak mau menatapnya yang menunduk sambil memainkan jari-jarinya.

“E?”

Hening.

“rasanya jatuh cinta ya?” aku mengeratkan mantelku kemudian kembali menatap langit yang gelap.

“rasanya… seperti kau berada diatas langit biru. Menyenangkan! Wae?” aku kembali menatap Hongki yang tengah menerawang kedepan.

“aniyo.” Dia menggeleng pelan. Apa kau sedang jatuh cinta Hongki-ah? Wanita itu… siapa? Akukah? atau… mungkinkah gadis itu…?

“Yeonae,” Hongki menatapku dalam. Wajahnya terlihat berseri-seri.

Aku berjalan dengan pikiran yang masih kacau dan perasaan yang tak tentu. “mungkinkah saat ini aku…jatuh cinta?” kalimat Hongki semalam masih terngiang di telingaku dengan jelas. Seperti rekaman yang diputar terus menerus. Aku masuk ke dalam bus yang akan mengantarkanku ke universitas.

“untukmu,” seseorang memberikanku minum, ku tengokkan kepalaku kesamping dan kudapati Minhwan tengah tersenyum.

“Minhwan-ah?”

“annyeong,” Minhwan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putih rapihnya. Aku tersenyum tipis.

“kau mau minum?” tawar Minhwan lagi. Aku mengangguk kemudian mengambil minum yang diberikan Minhwan.

“gomawo,”

“aigoo~ bagaimana pagi yang secerah ini, masih saja ada seseorang yang mukanya sangat mendung?” aku terkekeh pelan. Minhwan selalu berhasil membuatku tertawa disaat seperti ini. aku memukul kepalanya dengan botol minum yang berada di tanganku.

“ah, appo!” ringis Minhwan. Aku hanya terkekeh pelan. “rasakan itu, anak nakal!” Minhwan menaikkan bibir atasnya, kemudian ikut terkekeh pelan. Aku mengatur nafasku kemudian menatap wajah Minhwan yang tengah memandang luar jendela.

Aku dan Minhwan berjalan memasuki gerbang universitas. “kau harus lihat bagaimana ekspresi wajahnya saat kami mengerjainya!” kami tertawa. Sedari tadi Minhwan tengah bercerita tentang Byul songsaenim yang berhasil di kerjai oleh mahasiswanya. Byul songsaenim adalah dosen yang sangat menyebalkan. Biasanya mahasiswa atau mahasiswi di seoul university menyebutnya siluman berekor Sembilan.

“kau tau bagaimana ekspresi marahnya?” aku menggeleng. Minhwan membalikkan tubuhnya kemudian menirukan ekspresi Byul songsaenim saat marah.

“buahahaha,” tawa kami meledak. Membuat beberapa pasang mata menatap aneh kami. Tapi kami tak memedulikkannya.

“yaa! Geumanhae! Ahahaha… perutku sakit!” aku memegang perutku yang dijawab dengan anggukan kepala Minhwan. Kami memasuki kelas dengan rusuh, kemudian duduk di kursi kami, sambil mengatur nafas kami yang tak beraturan.

Beberapa detik setelah aku dan Minhwan memasuki kelas, Hongki dan Jaewon memasuki kelas. Aku terdiam sesaat. Kupandangi wajah ceria Hongki saat ia tertawa dengan Jaewon. Sinar matanya telalu jelas. Aku masih terdiam, hingga Hongki mendapatiku tengah menatapnya. Ia malah tersenyum kearahku sambil melambaikan tangannya. Anak bodoh itu tidak akan tau, bahwa tatapanku kali ini, tatapan iri dan cemburu pada Jaewon. Hongki dan Jaewon berjalan menghampiriku dan Minhwan.

“tumben kalian jalan bersama,” tanya Minhwan yang di jawab dengan senyum Jaewon dan Hongki.

“kalian juga,” Jaewon tersenyum kemudian meletakkan setangkai mawar di mejanya. Mawar? Apakah dari…Hongki?

“oh ya hwan, apa malam ini kau ada acara?” tanya Hongki sambil meletakkan tasnya.

“aniyo.”

“bagaimana denganmu Yeon?”

“E? ah~ masih tidak yakin. Waeyo?”

“malam ini aku dan Hongki akan makan malam bersama. Kupikir lebih baik mengajak kalian berdua juga.” Timpal Jaewon. Makan malam? Itu berarti… Hongki dan Jaewon akan melakukan kencan pertama mereka? Dan itu tandanya bahwa Hongki akan…

“yeon,” Hongki memegang tanganku, membuat aku kembali tersadar dari lamunanku.

“E?”

“ada apa denganmu?”

“a-aniyo.”

Aku memandangi sepasang laki-laki dan perempuan tengah bergandengan tangan dengan mesra di depanku. Aku memang wanita bodoh. Membiarkan laki-laki yang ku cintai bergandengan tangan dan bercanda dengan wanita lain. Dan yang membuatku semakin terlihat bodoh adalah, aku menuruti permintaan laki-laki yang kucintai untuk ikut makan malam di kencan pertamanya dengan wanita lain. Itu artinya aku membuat lukaku semakin dalam. Hah. Aku memang wanita bodoh.

“kau mau duduk?” tawar Minhwan. Membuatku mengalihkan pandangan dan tersadar dari lamunanku.

“setidaknya kita harus berpisah dengan mereka.” Ah, minhwan benar. aku tersenyum kemudian mengangguk. Kami duduk di sebuah taman. Sebenarnya masih ada beberapa pasangan yang tengah menikmati malam mereka. Suasana hening menyelimuti kami. Minhwan tak mau angkat bicara. Begitulah laki-laki ini, ia tau apa yang ia lakukan saat aku dalam kondisi seperti ini. sayang sekali, aku tak menyukainya. Mungkin aku jauh lebih beruntung jika aku menyukai Minhwan.

“Minhwan-ah,”

“mm?”

“apa saat ini kau…tengah menyukai seorang wanita?” Hening. Minhwan tak menjawab pertanyaanku. aku memandang wajahnya.

“wae?” Minhwan menatap wajahku juga. Aku menggeleng kemudian kembali menatap lurus.

“ani. Hanya saja…apa pernah ia menyakitimu?”

Hening.

“aniyo. Ia tidak pernah menyakitiku. Justru aku yang menyakiti diriku sendiri.”

“Em?”

Minhwan tersenyum miris. Ini pertama kalinya aku melihat senyum miris Minhwan. Orang yang selalu terlihat ceria di depanku, Hongki, Jaewon bahkan anak-anak yang lainnya. Aku tak suka Minhwan tersenyum seperti itu. Aku ingin senyum menawannya.

“Aku selalu berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan membuat air mata membasahi pipinya. Walaupun air mata itu bukan untukku, tapi aku berjanji untuk membuatnya selalu tertawa. Tapi…sepertinya aku gagal.” Aku melirik Minhwan sekilas. Aku dapat melihat bibirnya masih membentuk senyuman miris. Perempuan itu benar-benar beruntung dicintai oleh laki-laki seperti Minhwan.

“apa perempuan itu tau jika kau menyukainya?” minhwan menggeleng pelan. Senyum itu masih bertahan.

“bagiku…melindungi gadis yang ku cintai suatu keharusan untukku. Meskipun ia tidak tau dengan perasaanku. Meskipun tubuhku harus hancur sekalipun. Meskipun kebahagiannya bukan aku.” Entah setan apa yang membuatku berani memeluknya. Perasaan ini…aku tidak terlalu mengerti perasaan apa ini. seperti ingin memberikannya kekuatan. Meskipun mungkin hanya sedikit yang dapat ku bagi pada Minhwan. Sekali lagi, gadis itu benar-benar harus bersyukur dicintai laki-laki sepertinya.

Waktu terus berjalan, hingga menyisakan dua hari lagi untuk wisuda kami. Minhwan berencana untuk melanjutkan kuliahnya ke Jepang. Hongki dan Jaewon aku tidak tau. Sedangkan aku tidak tau rencanaku selanjutnya. Hari ini, aku dan Minhwan berencana untuk pergi ke perpustakaan. “yeonae! Minhwan!” aku dan minhwan menghentikan langkah kami saat suara Jaewon memanggil nama kami.

“oh, jaewon-ah. Musun iriya?” tanyaku.

“igo…” Jaewon mengulurkan amplop putih berbentuk persegi panjang ke arahku dan Minhwan. Aku mengambilnya ragu-ragu kemudian memandanginya. Oh, firasat ini bukan pertanda baik.

“mwoya…ige…?” tanyaku ragu.

“kuharap kalian datang ke acara pertunanganku dan Hongki tiga hari lagi. Jika kalian tidak hadir maka aku akan membatalkan pertunangan ini dan itu berarti aku juga akan membatalkan pernikahanku dan Hongki.” mworago? Apa aku salah dengar? Per-pertunangan dan Per-pernikahan? Ta-tapi…maldoandwae.

“ba-bagaimana…bagaimana bisa kalian akan melangsungkan pertunangan dan pernikahan secepat ini?”

“kejutan! Sebenarnya aku dan Hongki sudah berpacaran dua tahun yang lalu.”

“du-dua tahun…yang lalu?”

“eong. Hongki oppa menyuruhku untuk merahasiakan ini dari kalian berdua dengan alasan sebagai kejutan. Oh, Minhwan-ah, Jaewon-ah, aku harus pergi. masih ada beberapa hal yang harus ku urus. Sampai jumpa!” Jaewon pergi meninggalkan aku dan Minhwan. Op…pa? hah. Bagaimana bisa Jaewon begitu mudah memanggil Hogki dengan kata oppa? Aku yang sejak lahir bersama Hongki tak pernah memanggilnya oppa. Dan apa? Menyembunyikan hubungan mereka di belakangku selama dua tahun? Bagaimana Hongki bisa melakukan hal ini padaku? Bukankah sejak dulu Hongki tidak punya rahasia yang ia sembunyikan denganku? Hah.

“Yeonae-ah,” Minhwan memegang bahuku. Membuatku tersadar dari lamunanku.

“gwenchana?” gwenchana? Hah. Gwenchana? Angwenchana. Konyol. Bahkan aku tak bisa mendengar detak jantungku. Semua saraf ditubuhku mati begitu saja.

“gwenchana?” tanya Minhwan sekali lagi. Aku menatapnya kemudian tersenyum. Hanya tersenyum. Minhwan membalas senyumanku.

“kajja,” aku memegang tangan Minhwan.

“Mianhe Minhwan-ah, sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke perpustakaan hari ini. Maafkan aku.” Aku tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkan Minhwan. Jantung ini…kenapa begitu sakit? Apa aku tertancap sesuatu hingga membuat jantung ini rasanya menyakitkan. Tes. Aku menghapus air mataku yang tidak aku minta untuk keluar. Ku percepat langkah kakiku. Aku butuh tempat untuk menyendiri sekarang.

Aku memeluk kakiku kemudian menangis. Aku tidak akan takut akan ketahuan dengan orang-orang bahwa aku sedang menangis. Karena tempat ini tidak banyak di ketahui oleh orang-orang. Ku rasakan seseorang berdiri di depanku, kudongakkan kepalaku dan ku dapati Minhwan tengah berdiri di depanku. Seseorang yang tak pernah ku harapkan untuk menjadi sandaranku selalu hadir di saat aku butuh sandaran.

“Minhwan-ah,” air mataku terus berjatuhan. Bahkan aku tak ada kekuatan untuk menghapusnya. Jadi aku membiarkannya mengalir begitu saja. Sampai tangan itu, tangan yang tidak pernah ku harapkan untuk menghapus air mataku, menyeka air mataku untuk tidak jatuh lagi. Tapi kehadiran Minhwan membuat air mataku semakin berjatuhan.

“kau boleh membaginya padaku.” Minhwan menghapus air mataku lagi.

“bolehkah…aku meminjam bahumu sebentar?” Minhwan mengangguk, kemudian ia berbalik. Aku memeluk tubuhnya dari belakang kemudian menangis sejadi-jadinya.

“kenapa? kenapa rasanya begitu menyakitkan?” aku terus menangis. Tak peduli jika seandainya Minhwan tau perasaanku terhadap hongki. Tak peduli jika seandainya aku mempermalukan diriku sendiri di depan Minhwan. Yang aku butuhkan saat ini hanya seseorang. Seseorang untuk ku jadikan tempat bersandar. Karena saat ini aku terlalu rapuh. Minhwan melepas pelukanku, kemudian membalikkan tubuhnya dan memelukku. Membuat aku semakin tak bisa mengontrol tangisanku.

Yeonae            : Nan…eottokhae?

Minhwan         : Tak ada yang harus kau lakukan. Yang harus kau lakukan hanya melepasnya.                                 Membiarkannya hidup dengan kebahagiannya.

Aku mengetik balasan untuknya.

Yeonae            : tak semudah itu.

Minhwan         : memang. Tapi hanya itu.

Aku terdiam beberapa saat. Saat ini aku tengah chatting dengan Minhwan.

Yeonae            : aku terlalu mencintainya.

Minhwan         : maka lakukanlah.

Yeonae            : tak adakah jalan lain?

Minhwan         : ani.

Aku terdiam. Melepas Hongki untuk Jaewon? Itu tak akan mudah. Aku terlanjur mencintainya.

Minhwan         : kakakku mengatakan, lebih baik kau hidup dengan laki-laki yang mencintaimu,                              bukan laki-laki yang kau cintai. Jika kau hidup dengan laki-laki yang                                                 mencintaimu, kau akan aman dan bahagia. Tapi jika kau hidup dengan laki-laki                                      yang kau cintai, hanya ada tangisan.

Minhwan         : Tuhan tau yang terbaik untukmu. Mungkin Hongki bukan takdirmu. Mungkin                                tuhan sudah mempersiapkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Hongki.

Yeonae            : aku tak bisa melepasnya begitu saja.

Minhwan         : berarti kau tak mencintainya.

Yeonae            : tidak begitu. Geunyang…

Minhwan         : kau ingin menyakitinya?

Yeonae            : tentu saja tidak.

Minhwan         : maka lakukanlah untuknya. Lepaskan ia. Datang ke pertunangannya maka kau                               akan menemukan kebahagiaanmu juga.

Yeonae            : aku belum siap.

Minhwan         : kau harus siap

Yeonae            : aku tidak yakin, aku bisa datang besok

Minhwan         : kau harus yakin.

Aku menghela nafas, kemudian mengetik balasan.

Yeonae            : akan ku pikirkan.

Minhwan         : hubungi aku jika kau sudah menemukan jawabannya.

Aku menghembuskan nafas panjang kemudian mematikan komputerku.

Bling.

Satu pesan masuk. Aku mengambil Handphoneku, kemudian membacanya. Menghela nafas sebentar, kemudian mengambil mantel yang tergantung dan beranjak dengan malas.

Aku menghela nafas kemudian menghampiri Hongki yang tengah bersender di dinding. “ada apa memintaku bertemu denganmu?” kataku. Melipat kedua tanganku di depan dada. Hongki tersenyum melihat kehadiranku.

“kajja,” Hongki memegang tanganku, kemudian menaiki tangga berlumut itu lagi. Aku tau ia akan membawaku kemana.

Aneh, kenapa tangan Hongki berubah menjadi sedingin ini? Biasanya meskipun cuaca sedingin apapun, tangannya tetap akan terasa hangat. Kami sampai diatas gedung. Hongki melepas genggaman tangannya kemudian berjalan ke pinggir gedung dan duduk disana.

“kesini,” Hongki tersenyum kemudian menggerak-gerakan tangannya. Menyuruhku untuk menghampirinya. Aku menghela nafas kemudian berjalan menghampirinya.

“duduk disini,” kali ini hongki menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

“tidak mau,”

“wae?”

“bodoh. Kau akan jatuh jika kau duduk disini. Turunlah.”

“tidak apa-apa. Jika kau jatuh, aku akan menangkapmu.” Hongki menarik tanganku, kemudian menuntunku untuk duduk di sampingnya.

“babo! Ini terlalu tinggi.” Aku menyembunyikan wajahku di bahunya. Menggenggam tangannya erat. Hongki hanya terkekeh pelan. Beginilah anak ini, jika aku sedang takut dengan ketinggian, dia akan menertawaiku. Menyebalkan bukan anak ini?

“tidak apa-apa. Lihatlah kebawah,”

“shireo!”

“ayolah. Kau akan suka jika sudah melihat ini,” perlahan ku jauhkan wajahku di bahunya, kemudian memberanikan diri melihat ke bawah. Dan benar! dalam sekejap aku menyukainya. Aku menyukai duduk di pinggir bangunan. Disini, aku bisa melihat kota seoul yang masih ramai. Lampu-lampu yang berkelap-kelip dengan cantiknya. Kendaraan yang masih meramaikan jalan.

“bagaimana? Kau menyukainya kan?” aku tersenyum kemudian mengangguk. Masih menikmati kota seoul di malam hari.

Hening. Tidak ada pembicaraan. Aku masih tak ingin mengalihkan pandanganku. Hongki? Mungkin memberikanku waktu untuk menikmati semua ini. ahhh sayang sekali kenapa tidak dari dulu aku mengetahui bahwa duduk di pinggir bangunan sangat menyenangkan.

“Yeon,”

“em?”

“kau tau kan pertunanganku dengan Jaewon tinggal tiga hari lagi?” perlahan senyum yang sedari tadi belum lepas di wajahku memudar. Pemandangan yang begitu cantik seakan berubah. tak lagi menarik perhatianku. Perasaan nyaman yang beberapa menit ku dapat, lenyap entah kemana.

Hening.

“aku tau,” kenapa? katakan padaku. Katakan padaku kenapa kau menanyakan hal ini padaku? Apa kau memintaku untuk mencegahmu untuk tidak bertunangan dengan Jaewon? Akan ku lakukan. Katakan padaku lee hongki.

“aku dan Jaewon ingin kau menjadi pengiring kami saat pernikahan.” Aku terdiam. Bukan! Bukan permintaan seperti itu yang aku ingin. Bahkan aku tidak akan datang ke acara pertunangan kalian. Dan sekarang kau memintaku menjadi pengiring kalian pada saat pernikahan kalian nanti? Hah. Aku tidak gila lee hongki.

“aku tidak mau …”

“wae?” tanya hongki, dapat ku tebak ia sangat kaget dengan jawabanku.

Hening.

“katakan padaku apa alasan kau tak ingin datang ke acara pertunanganku.”

“memangnya harus ada alasan di setiap tindakan?”

“yeon, kenapa sikapmu jadi seperti ini? akhir-akhir ini, kau juga menjauhiku. Apa kau tidak merasa?” ya. Aku menjauhimu. Jika aku terus bersamamu, aku akan terlihat begitu bodoh dan lemah. Untuk apa aku terus berada disampingmu? Bukankah untukmu Jaewon sudah menjadi penggantiku?

“tidak. Aku tidak merasa. Mungkin hanya kau saja yang terlalu paranoid.”

“kau bahkan jadi dingin denganku.”

“itu juga aku tidak merasa.”

“lihat. Sikapmu sekarang begitu dingin denganku.”

“bukankah sama seperti biasanya.”

“yeon,” yeon? Bahkan sekarang aku benci panggilan itu. Kau sukses membuatku marah lee hongki.

“panggil namaku dengan benar.”

“yeon, ada apa denganmu?”

“tidak ada apa-apa. Sudah ku katakan, panggil namaku dengan benar.”

“yeon,”

“panggil namaku dengan benar atau aku akan pergi.” Hongki menghela nafas beratnya.

“kang yeonae, kau marah padaku?” ya. Aku marah padamu. Bahkan aku benci padamu. Tidak bisakah kau lihat? Aku marah padamu. Aku kesal denganmu. Kenapa? semua karena kebodohanmu dan kebodohanku.

“ya. Aku marah.”

“kenapa?”

“karena kau bodoh.”

“tidak masuk akal.”

“sangat masuk akal.”

“yeon, kenapa kau jadi kekanak-kanakan seperti ini?”

“jika aku kekanak-kanakan kenapa? kau tak suka?”

“KANG YEONAE!” hongki membentakku. Membuatku mengkerut di tempatku. Lihat! Apa semua karena Jaewon bersamamu? Bahkan kau sekarang berani membentakku.

“kau sadar apa yang sudah kau lakukan…?” kataku pelan. Ku gigit bibirku kencang. Menahan agar air mata tidak jatuh ke pipiku.

“yeon, bibirmu berdarah!” Hongki mengulurkan tangannya untuk menghapus darah di bibirku, tapi aku menepis tangannya.

Hongki menghela nafas berat kemudian mengusap wajahnya frustasi. “maafkan aku…” suaranya melemah.

“jika maaf berfungsi, untuk apa ada polisi?”

“tadi aku…”

“lupakan saja.”

“yeon, dengarkan aku dulu…tadi aku di luar kendali dan aku menyesal.” Menyesal? Lalu, apa kau tidak menyesal memilih jaewon menjadi pendamping hidupmu sampai mati? Apa kau tidak menyesal membohongiku selama dua tahun?

“menyesal? Lihat, bahkan hal sepele kau bilang menyesal. Apa hal besar tidak kau sesali?”

“aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini yeon.”

“jawab saja.”

“…..”

“tidak ya? Woah… lee hongki benar-benar berubah sekarang.” Tes. Pada akhirnya air mataku jatuh juga.

“yeon, bukan begitu.”

“bukan begitu…? Lalu, apa kau tau apa yang kau lakukan padaku? Apa kau memang benar-benar bodoh lee hongki?! kau anggap aku apa?!”

“kau bicara apa? kau sahabatku.”

Aku menghapus  air mataku. “ah ya… dulu kang yeonae adalah sahabat lee hongki. sekarang bukankah mereka sudah berakhir?”

“apa yang kau katakan yeon?!”

“kenapa kau marah? Bukankah persahabatan mereka memang sudah berakhir? Bukankah salah satu dari mereka sudah melanggar perjanjian yang mereka buat? Dan perjanjian itu, adalah perjanjian yang paling berat hukumannya.” Aku menatap Hongki. wajahnya benar-benar terlihat frustasi.

“kenapa suasananya jadi seperti ini?! yeon,” Hongki menatapku. Kemudian menghela nafasnya sekali lagi. “baik. lupakan perjanjian bodoh itu yeon. Itu perjanjian yang dibuat oleh dua orang ingusan. Sekarang kita sudah dewasa.”

“ani. Perjanjian itu tetap berlaku untukku.”

“berlaku hanya untukmu, tapi tidak untukku.”

“terserah kau lee hongki.”

“BERHENTI MEMANGGILKU LEE HONGKI!” bentaknya sekali lagi. Aku mengangguk kemudian tersenyum miris.

“geurae…geurae…aku tak akan memanggilmu lee hongki.”

“yeon…” suaranya kembali melembut. “apa kau tau bahwa hubungan persahabatan itu tidak akan pernah berakhir. bahkan hubungan persahabatan jauh lebih istimewa dari hubungan-hubungan yang lainnya. Karena tidak pernah ada sebutan ‘mantan’ bagi sahabat.”

“geurom…apakah ada seorang sahabat yang membohongi sahabatnya sendiri? Apakah ada seorang sahabat yang menyembunyikan hubungannya dengan seorang gadis kepada sahabatnya sendiri? Bahkan ia membohongi sahabatnya selama dua tahun. Adakah?”

“….”

“JAWAB AKU LEE HONGKI!” Tes. Air mataku kembali mengalir.

“i…”

“lupakan. Lupakan saja.” Aku menghapus air mataku kemudian beranjak pergi dari tempat ini. meninggalkannya sendirian. Malam ini, pertengkaran hebat yang terjadi selama 20 tahun kami bersama.

“aku benar-benar tidak bisa datang ke acara pertunangan mereka minhwan-ah,” aku terduduk di sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam dan aku tidak bisa memejamkan mataku. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini, aku bisa tidur dengan pulas?

“kau masih tidak bisa melepasnya?”

“bukan seperti itu…”

“…..”

“…malam ini kami bertengkar hebat.” Aku menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Memejamkan mataku sebentar. Kenangan masa lalu berkelabat di kepalaku. “Pertengkaran terhebat yang pernah terajadi selama 20 tahun.” Lanjutku.

“APA?! Bagaimana bisa…?”

“….” Bagaimana bisa? Aku juga tidak tau kenapa ini bisa terjadi.

“semua karena ke-egoisanku.”

“jangan menyalahkan dirimu sendiri yeon,” aku menggigit bibir bawahku lagi. Menahan agar air mata ini tak lagi keluar. Aku bosan menjadi cengeng.

“…..”

“gwenchana?”

“eong.”

“apa ada yang ia katakan padamu?”

“…tidak ada. Hanya saja ia memintaku menjadi pengiring pengantin saat pernikahan mereka dan aku menolaknya.” Dan dari situlah kami bertengkar. Karena Hongki terlalu bodoh. Karena ia bodoh tidak mengetahui perasaanku.

“yeonae, kau tak bisa bertengkar seperti ini hanya karena Hongki tak mengetahui bahwa kau mencintainya. Bahkan kau sendiripun tidak akan sadar bahwa ada orang lain yang mencintaimu.”

“…..”

“maka dengarkan aku, kau harus berbaikan padanya yeonae-ah. Mungkin ada alasan kenapa ia menyembunyikan hubungannya dengan Jaewon padamu.”

“alasan?”

“ya. Alasan yang kuat yang membuatnya merahasiakan hubungannya dengan Jaewon padamu selama dua tahun.”

“alasan apa?”

“aku juga tidak tau, dan mungkin Jaewon juga tidak akan tau. Jadi mungkin hanya Hongki yang menyimpan alasan itu.”

“kenapa kau seperti mengenal Hongki sangat lama dariku. Bahkan aku tidak tau bahwa dia anak yang seperti itu.”

“karena kau selalu menganggapnya bodoh.” Dia memang laki-laki bodoh. “kau tau, hanya di depanmu ia seperti anak bodoh.” Karena aku sahabatnya, makanya ia bersikap seperti itu.

“kau menyukai hongki ya?”

“ha ha ha. Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai Hongki?” aku tersenyum. Choi Minhwan. lagi-lagi kau membuatku lebih baik.

“bodoh.”

“ha ha ha.”

“….”

“minhwan-ah,”

“ne?”

Jeongmal gomawo…

“aniyo.”

…….

“apa aku boleh meminta sesuatu darimu? Permintaan terakhirku disini.” Aku diam. Permintaan terakhir di korea? Aneh. Kenapa tiba-tiba aku merasa kesepian.

“ya kau benar. permintaan terakhir di korea. Tapi kau menyiapkan banyak permintaan di jepang. Benar kan?”

“ha ha ha. Kau memang pintar menebak pikiran orang.” Aku tersenyum. Tawa minhwan membantuku. Meskipun tak banyak.

“….”

“….”

“aku serius. Kau mau?”

“baiklah. Apa permintaanmu?”

Dan pada akhirnya disinilah aku. berdiri bersamaan puluhan orang. Mendengarkan sambutan dari orang yang berperan penting dalam acara malam ini. aku disini bukan wanita bodoh dan juga bukan seorang yang mengemis agar ia mau menerima perasaanku. Aku disini karena permintaan Minhwan. Permintaan terakhir katanya. Aku disini bukan karena Hongki. aku disini karena Minhwan. Aku juga tak tau kenapa menyetujui dengan permintaan bodoh Minhwan. Apa aku juga termasuk orang bodoh? Dan sedari tadi mata itu tak lepas menatapku di depan sana. sinar mata yang aku tidak tau apa artinya.

Aku meneguk habis minumku bersamaan dengan selesainya sambutan dari orang tua Jaewon. Aku beranjak pergi, tapi Minhwan menahan lenganku. “jangan berencana kabur dari acara ini. kau sedang menemaniku untuk menghadiri pertunangan temanku.” Temannya? Hongki dan Jaewon juga temanku dan inilah yang terjadi. Minhwan memintaku untuk menemaninya ke pertunangan Hongki dan Jaewon, dan ia mengatakan jika aku tak mau, anggap saja aku tidak mengenal mereka. Ha ha ha. Lucu bukan? Aku mengenal mereka. Terutama Hongki. aku mengenal laki-laki itu dengan baik. tapi malam ini, aku malah berpura-pura tidak mengenal Hongki dan Jaewon. Ini benar-benar lucu.

“aku ingin ke toilet.” Minhwan mengangguk. Perlahan genggaman tangannya mengendur dan terlepas. “ah ya, kau boleh memenggal kepalaku jika aku kabur dari acara ini.” aku tersenyum yang di balas dengan senyum menawan yang dimilikinya.

Aku keluar dari toilet. Para undangan tengah menyantap makanan yang tersedia. Aku mencari Minhwan. Berencana mengajaknya pulang. Ini sudah terlalu larut. Tapi, kemana anak itu? Seharusnya ia masih dalam ruangan ini. ah, mungkin ada di luar. Ku langkahkan kakiku kehalaman rumah Jaewon dan benar saja. Seorang laki-laki tengah berdiri, memperhatikan sesuatu.

“hwan,” aku memegang bahu minhwan, reflek ia membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat ke bingungan. “apa yang kau lihat disini?” Minhwan menengok ke belakang sebentar kemudian menatapku. “ti…tidak ada. Ayo kedalam. Diluar sedikit dingin.” Minhwan menggenggam tanganku dan mencoba membawaku masuk. Tapi aku tak bergerak. Terlanjur penasaran dengan apa yang di lihat oleh minhwan.

“tunggu, aku juga ingin lihat.” Aku meninggikan tubuhku untuk melihat kejadian di belakang bahu Minhwan.

“kau tak akan menemukan apapun. Tadi aku hanya melamun.” Aku tak membalas. Ku geser tubuh Minhwan agar aku bisa melihat, tapi Minhwan masih berdiri di tempatnya.

“hwan, apa yang kau lihat. Kau pasti menyembunyikan sesuatu. Menyingkirlah. Aku ingin lihat.”

“sudah ku katakan, tidak ada apapun. Percayalah.”

“apa itu ada hubungannya dengan Hongki dan Jaewon?” tanyaku. Minhwan hanya diam yang ku anggap sebagai jawaban dari ‘ya’

“hwan, ayolah. Aku juga ingin melihat apa yang terjadi. Meskipun itu menyakitkan, itu resiko yang akan aku tanggung sendiri, dan maafkan aku jika selama ini kau selalu menjadi pelampiasanku.”

“aku tak mempermasalahkan itu. Hanya saja…”

“hwan-ah, jebal….” Minhwan menghela nafas panjang kemudian menyingkirkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat. Aneh. Rasanya tidak seperti biasanya. Jantung ini tak sakit seperti biasanya. Padahal aku melihat jelas mereka tengah berciuman. Minhwan membalikkan tubuhku kemudian memelukku.

“sudah ku katakan jangan melihatnya. Ini hanya memperparah keadaanmu.” Aku tersenyum kemudian menarik diri dari tubuh Minhwan.

“gomawo sudah mengkhawatirkan aku hwan-ah. Tapi percayalah, aku baik-baik saja saat ini.” aku tersenyum. Minhwan menatap mataku dalam. Seperti mencari kebenaran dari perkataanku.

“kau yakin?” aku memeluk tubuh Minhwan, meletakkan daguku di bahunya. Kemudian menganggukkan kepala pelan. “aku sangat yakin. Terimakasih untuk semuanya hwan-ah.” Minhwan membalas pelukanku. Kenapa rasanya nyaman? jauh lebih nyaman saat Hongki memelukku. Apa karena aku perlahan-lahan mulai melepas Hongki untuk Jaewon? Aku menarik tubuhku, kemudian kami tertawa.

“yeonae!” Jaewon menghampiriku dan Minhwan. Tangannya melingkar di lengan Hongki dan jari manisnya sudah bertengger cincin silver dengan cantik. Aku melirik Hongki sekilas. Mata itu kembali menatapku. Membuatku seperti tersangka yang sedang di introgasi.

“cukhae untuk pertunangan kalian,” Minhwan memberi selamat kepada Jaewon dan Hongki.

“gomawo minhwan-ah,” Jaewon tersenyum dengan bahagia. Ya, sepertinya Minhwan benar, aku harus melepas Hongki untuk Jaewon. Mungkin memang Jaewon kebahagiaannya dan begitupun dengan Jaewon. Bahkan aku tak pernah melihat senyum sebahagia itu dari Jaewon. “apa kami terlihat serasi, yeon?”

“E?” aku hanya mengangguk kemudian tersenyum. Ku lirik Hongki sekilas, mata itu masih menghakimiku. Tatapannya dingin dan aku benci itu. “Hwan, mau temani aku?” Jaewon menarik tangan Minhwan. Yang ku yakini mereka pergi untuk memberikanku waktu dengan Hongki untuk berbaikan.

“kami akan kembali.” Jaewon tersenyum. “aku tak akan lama. aku akan kembali dan mengantarmu pulang.” Aku tersenyum kemudian mengangguk. Minhwan dan Jaewon tersenyum. “kajja,”

Dan mereka berdua pergi. Meninggalkan aku dan Hongki berdua. Ku hembuskan nafasku. Suasana ini, berbeda. Berbeda 180 derajat. Canggung dan sedikit mencekam. Ku lirik Hongki sekilas. Tatapannya mulai berubah. Terlihat…menyedihkan? “kau kaget ya aku datang ke pertunanganmu?” aku tersenyum miris. Ku beranikan untuk menatap wajahnya. “kau jangan salah paham, ini bukan kemauanku.” Hongki masih diam. Menatapku.

“ah ya, aku tak yakin akan datang ke pernikahanmu dan Jaewon minggu depan. Aku berencana ke luar negri untuk kuliah, dan… aku masih belum tau harus kembali ke korea kapan. Masih tidak ingin merencenakannya. Mungkin saja setelah lulus kuliah atau mungkin dua tahun sekali atau mungkin tidak akan kembali lagi ke korea.”

Hening.

Ku tarik nafasku kemudian menghembuskannya perlahan. “ah, lebih baik aku cari Minhwan, ini sudah terlalu malam.” Aku membalikkan tubuhku, tapi Hongki menahan lenganku, membuatku harus membatalkan untuk masuk ke dalam mencari Minhwan. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Ku gigit bibir bawahku. Aku tak ingin menangis. Aku lelah untuk menangis. Aku lelah menjadi gadis cengeng dan aku lelah menjadi gadis yang ingin di kasihani.

“jika kau pergi karena aku, maafkan aku.” Argh. Perasaan ini timbul lagi. Sakit sekali. Ku tatap langit malam, mencoba agar air mata yang sudah tergenang di kelopak mataku tidak jatuh. Kau tau lee hongki. Jika kau seperti ini terus, bagaimana bisa aku melepasmu. Tapi pada kenyataannya aku harus melepasmu. Kenapa? Kenapa bukan gadis itu aku? Agar aku tidak harus melepasmu. Karena untukku, melepasmu seperti melepas sebagian dari hidupku.

“lupakan yang kemarin. Lupakan semua perkataan kasarku padamu malam itu. Lupakan semua kejadian malam itu. Maafkan aku.”

“jangan berlebihan. Tak akan bisa aku melupakan kejadian malam itu. Pertengkaran terhebat selama 20 tahun.”

…….

aku melepas pelukanku. “kajima…” Hongki menatapku dalam. “Jebal kajima…” aku tersenyum kemudian menggeleng.

“pukullah aku jika kau marah, tapi jangan pergi dengan cara seperti ini.” Aku memeluk Hongki sekali lagi. Kali ini Hongki tak membalas.

“aku tak ingin memukulmu.”

“kenapa?”

Aku tersenyum. “pertama, aku tak akan memukulmu di depan para undanganmu. Kedua, aku tak akan membuatmu babak belur di hari pernikahanmu nanti dan yang ketiga, aku tak ingin Jaewon membunuhku hanya karena melihat tunangannya dipukuli.”

“kalau begitu lakukan apapun yang kau mau. Meskipun tulang rusukku patah atau aku mati ditanganmu, aku tidak apa-apa.” Aku menarik tubuhku kemudian memukul bahunya.

“cish kau memang benar-benar bodoh. Jangan pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan orang lain juga. Pikirkan bagaimana perasaan orang tuamu. Terutama Jaewon. Jika kau mati, ia pasti sangat terpukul dan dia juga tak akan segan-segan membunuhku.” Aku tersenyum.

“aku akan cari Minhwan. ia masih ada tugas mengantarku kembali.” aku menepuk bahu Hongki kemudian masuk ke dalam. Menghapus air mataku yang menetes.

Aku berlari meninggalkan rumah ini. Melupakan janjiku pada Minhwan untuk tidak pergi tampanya. Air mata ini sedari tadi sudah menderas. Ah dan betapa beruntungnya aku. Aku bukan seorang diri yang menangis. Hujan menemaniku. Membasahi tubuhku. Membawa air mataku mengalir entah kemana dan aku berharap, hujan juga membuat jantung ini membeku. Mungkin itu sedikit mengurangi rasa sakit hati ini.

Tapi percuma. Jantung ini masih terasa sakit. Bahkan semakin sakit. Inikah akhir dari semuanya? Akhir dari kisah cintaku yang ku pertahankan selama 12 tahun? Inikah?

Kurasakan tubuhku tak terguyur oleh derasnya hujan. Ku buka mataku perlahan dan ku dapati kaki seseorang berdiri di depanku. Aku tau siapa dan untuk yang kesekian kalinya tidak sesuai yang aku harapkan. Aku berdiri perlahan, masih dengan kepala yang menunduk. Aku tidak mau minhwan melihatku menangis. Meskipun terlihat tidak memungkinkan minhwan tidak melihatku menangis. Ia pasti melihatku dan ia pasti tahu aku sedang menangis. “aku…butuh sendiri hwan-ah…biarkan aku sendiri…” aku membalikkan tubuhku, tapi minhwan lebih dulu memegang lenganku sebelum aku berlari meninggalkannya.

Aku tidak membalikkan tubuhku. Perlahan minhwan membawaku kedalam pelukannya. Ah dada ini. Aku bertemu lagi dengan dada ini. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Sudah cukup dada ini menjadi tempatku menangis. Aku tak pantas untuk menangis di dada ini. “biar aku menemanimu disini. Jika kau tidak ingin aku berbicara, maka aku tidak akan berbicara. Cukup kau menangis di pelukanku saja.” Dan sekali lagi aku gagal. Air mata ini kembali mengalir. Lebih deras dari yang tadi. Tak ada isakan atau tubuh yang bergetar. Hanya air mata.

Minhwan menepati perkataannya. Ia hanya diam. Membiarkan aku menangis di pelukannya. Meskipun aku sangat tau, banyak pertanyaan berkelabat di kepalanya.

Minhwan memberikan segelas air putih kearahku. Aku tersenyum dan menerimanya, kemudian meminumnya hingga setengah gelas. Setelah hujan-hujanan tadi, Minhwan mengajakku untuk menginap di rumahnya. Kebetulan orang tua dan kakak perempuannya sedang pergi, jadi aku bisa menempati kamar kakak perempuan minhwan.

Minhwan mengambil gelas yang ku pegang kemudian tersenyum hangat. Ya hangat. “istirahatlah.” Minhwan merebahkan tubuhku, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Hanya sebatas bahu. “selamat malam.” Minhwan membelai rambutku pelan, kemudian berbalik.

“hwan-ah,” aku memegang tangan minhwan. Membuat minhwan berbalik dan menatapku.

“wae?” aku bangkit dari posisi tiduranku. Menundukkan wajahku. Ada apa ini? Aku juga tidak tau kenapa aku mencegahnya. Aku hanya ingin…ia menemaniku. “kajima…” kataku perlahan. Bahkan seperti bukan suara. Seperti hembusan angin. Tapi aku yakin minhwan mendengar perkataanku.

Ku beranikan menatap wajahnya. Minhwan tersenyum, kemudian mengacak rambutku pelan. “baiklah.” Di duduki tubuhnya di pinggiran ranjang. Ku mainkan selimutku.

……

“aku mengenalnya sejak kami lahir. Orang tuaku dan orang tuanya bersahabat. Makannya kami sudah kenal sejak lahir.”

“….”

“ia selalu melindungiku dari sesuatu yang mengancamku. Dia juga selalu membelikanku apapun yang aku inginkan. Dia seperti ayah dan ibu kedua untukku. Tapi terkadang ia seperti adikku sendiri.”

“saat kami kelas satu sekolah dasar, kelas kami kedatangan murid baru. Seorang gadis yang cantik. Namanya Min Joo. Setiap hari Min Joo selalu bermain dengan Hongki, sampai ku pikir Hongki sudah melupakanku. Tapi disisi lain aku selalu berpikir, Hongki tidak akan melakukan hal itu padaku. Hingga suatu hari, anak-anak dikelasku mengatakan bahwa Hongki dan Min Joo berpacaran. Saat itu, aku tidak tau kenapa disini begitu sakit.” Aku memegangi dadaku. “kupikir, itu pertama kalinya aku merasakan bagaimana sakit hati. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa pertumbuhanku terlalu cepat bagi anak yang berumur tujuh tahun. Di umur se-muda itu aku sudah berpikir bahwa sakit disini adalah sakit hati.” Aku tersenyum, kemudian menatap minhwan. Minhwan menatapku balik. Sinar mata itu…aku tidak mengerti sinar mata itu…sinar mati simpati kah?

“keesokan harinya aku tidak mau pergi ke sekolah. Aku tidak mau bertemu dengan Hongki. Aku terus melakukan hal itu selama dua minggu.waktu yang lama untukku, tapi aku tidak tau apakah waktu dua minggu untuk Hongki adalah lama atau cepat. Setelah dua minggu, aku kembali ke kelas. Kembali dengan yeonae seperti biasanya. Saat memasuki kelas, aku tidak menemukan Hongki. Teman-temanku, mengatakan ia pergi ke atas gedung disamping sekolah.”

“setelah mengucapkan terima kasih pada temanku, aku berlari menyusul Hongki. Aku merindukan laki-laki itu. Ah, bahkan terlalu cepat bagi anak seusiaku mengenal arti ‘merindukan’. Dan kau tau apa yang ku dapat saat berada diatas gedung? Hongki tengah berdiri di pinggiran bangunan dengan tangan yang di rentangkan. Kupikir ia akan bunuh diri, ternyata ia hanya menyegarkan pikirannya. Saat itu, ada rasa lega di hatiku.” Bibirku tertarik lagi. Terlalu indah jika di lupakan.

“…..”

“….”

Aku memejamkan mataku sebelum air mata mengumpul kembali di kelopak mataku dan akhirnya terjatuh. “dia mengatakan merindukanku. Ia mengatakan bahwa dia begitu depresi tidak melihatku dua minggu. Ia mengatakan dunia tidak menyenangkan lagi dua minggu yang lalu dan yang terpenting, ia mengatakan ia tidak pernah berpacaran dengan Min Joo.” Aku membuka mataku perlahan. “dan di tempat itu ia berjanji padaku. Ia berjanji hanya melihatku seorang diri. Ia berjanji akan selalu bersamaku dan tidak akan ada wanita lain selain aku.” Aku menelan ludahku, kemudian membasahi bibirku yang kering. “jika ia mengingkari janjinya, maka hubungan ini berakhir. Itu yang ia katakan. Dan karena alasan inilah, malam itu kami bertengkar hebat. Karena ia mengingkari janjinya. Bukan karena ia membohongiku. Tapi karena ia tidak lagi melihatku seorang. Karena ia memiliki wanita lain selain aku.” Aku menghapus air mataku yang menetes.

“….”

“katakan sesuatu hwan-ah…”

“mungkin matanya tidak hanya menatapmu seorang diri lagi. Mungkin ia memiliki wanita lain. Tapi mungkin saja, hanya kau seorang yang ada di hatinya.hati orang….siapa yang tau kan?”

Bisakah seperti itu? Bisakah di hati Hongki hanya ada aku? Sudah jelas saat ini Hongki hanya menatap Jaewon. Sudah sangat jelas bahwa berarti Jaewon hanya satu-satunya gadis di hatinya.

….

….

“tidurlah, ini sudah terlalu malam.” Minhwan merebahkan tubuhku, kemudian kembali menarik selimutku. “kau tidak tidur?” tanyaku sebelum menutup mata.

“tidurlah. Aku akan tidur setelah memastikan kau tidur.”

Aku menggeleng. “aku tidak apa-apa hwan-ah. Kau juga harus tidur. Kau terlihat sangat lelah.” Apa mungkin karena permasalahanku menjadikan kau beban sehingga kau lelah?

Minhwan menggeleng. “hwan-ah, maa—“ minhwan menempelkan telunjuknya dibibirku. “ssttt…tidurlah.” Dilepasnya telunjuknya. Aku mengangguk. Kalau begitu…”terima kasih…” minhwan mengangguk kemudian tersenyum. Aku menutup mataku perlahan. Terimakasih banyak choi minhwan…

Aku mengernyitkan dahiku. Sinar matahari pagi memasuki sela-sela jendela. Aku bangkit dari tiduranku. Kurasakan seseorang menggenggam tanganku. Ku tengokkan kepalaku kesamping dan mendapati minhwan tengah tertidur dengan kepalanya di letakkan di samping tempat tidurku. Tangannya masih menggenggam tanganku. Apa semalam kami tidak melepaskan genggaman tangan kami? Dan mungkinkah ia menjagaku semalaman? Aku tersenyum kemudian mengelus rambut hitamnya perlahan-lahan. Kenapa ia begitu lucu saat tidur?

“pasti kau tidak nyaman tidur dengan posisi seperti ini. Seharusnya kau tidak melakukan apa yang otak bodohmu perintahkan. Kalau seperti ini, kau dan Hongki sama-sama bodoh. Jika kau lelah dengan rengekkanku, kau boleh membentakku dan mengatakan bahwa kau lelah dengan permasalahanku. Kau lelah menjadi sandaranku. Jangan seperti ini. Dasar anak bodoh.”

Minhwan menggerakkan kepalanya. Mungkin terusik dengan elusan tanganku. Perlahan matanya terbuka, kemudian di tegakkan tubuhnya. Matanya yang belum sempurna terbuka menatapku. Tersenyum dengan manis. “ireona?” tanyanya. Aku mengangguk. “bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?” aku mengangguk lagi. “syukurlah…”minhwan tersenyum semakin lebar kemudian mengacak rambutku pelan.

“kau semalam menjagaku?” gumamku pelan.

“ne?” aku menggeleng kemudian tersenyum. “ani. Gomawo hwan-ah…” aku tersenyum yang dibalas dengan anggukan kepala minhwan.

“mandilah. Aku akan mempersiapkan sarapan untuk kita.” Minhwan bangun dari posisi duduknya. Tangan kami masih menggenggam satu sama lain.

Suasana berubah menjadi canggung. Apa ini? Biasanya tidak seperti ini. Minhwan tersenyum kemudian melepas genggaman tangannya. “cepat bersihkan dirimu dan kita akan sarapan bersama di meja makan.” Cklek. Pintu di tutup minhwan. Aku memandangi tangan kananku. Kenapa rasanya jadi aneh?

“kau sudah datang?” Hongki mengangguk kemudian duduk di depanku. Hari ini, aku memintanya bertemu. Besok aku akan pergi ke Jepang, melanjutkan kuliahku disana.

“apa aku mengganggu waktumu dengan Jaewon?” Hongki menggeleng. “ngomong-ngomong hari ini kau mau kemana?” Tanya Hongki. aku meminum juiceku hingga habis.

“hanya temani aku jalan-jalan.”

“geurae. Kajja!” Hongki menarik tanganku meninggalkan café. Kulirik sekilas tangan Hongki yang sudah bertengger di bahuku, kemudian menatap wajahnya. Lee Hongki, bagaimana cara aku bisa melepasmu? Tapi…jangan khawatir. Aku akan berusaha melepasmu. Membiarkanmu bersama kebahagiaanmu.

“wae?” Hongki menatapku bingung. Aku menggeleng pelan. “aku tampan bukan?” candanya. Aku berhenti melangkah. Membuat langkahnya ikut terhenti. Hongki menatapku bingung.

“mworago?!” aku memukul kepalanya keras kemudian pergi meninggalkannya yang meringis kesakitan.

“Yaa! Kang Yeonae! Tunggu aku!” Hongki berlari menyusulku, kemudian tangannya kembali bertengger di bahuku.

Aku melihat pemandangan kota seoul diatas gedung ini. Sekarang, aku tidak takut lagi duduk di pinggir bangunan. “igo,” Hongki mengulurkan satu botol cola kearahku. Aku tersenyum, kemudian mengambil botol cola dari tangannya agar berpindah ke tanganku. Hongki ikut duduk di sampingku. Sesaat suasana hening dan nyaman. Angin sore pelan menemani kami, membuat suasana semakin nyaman.

Aku membuka cola-ku “bagaimana persiapan pernikahan kalian?” kemudian meminum colaku.

“sudah hampir siap…” aku tersenyum kemudian mengangguk kecil.

Hening.

Kulirik Hongki yang tengah menunduk sambil memainkan botol cola-nya. Sepertinya ada sesuatu yang ia ragu untuk ditanyakan padaku. Aku meminum cola-ku lagi. “yeon,”

“em?” aku menengok kearahnya. Ditegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Matanya memandang jauh ke depan.

“kapan kau akan pergi ke sana?” aku tersenyum tipis kemudian ikut menatap lurus ke depan. Aku tidak mengerti kenapa Hongki mengganti kata ‘jepang’ dengan ‘ke sana’.

“jepang maksudmu?”

“em.” Hongki meneguk habis minumannya, kemudian melemparnya ke tempat sampah. Sayangnya tidak masuk.

“besok.”

“mworago?” Hongki memutar kepalanya, menatapku. Aku tersenyum kemudian menenggak habis minumanku dan melemparnya ke tempat sampah persis seperti yang dilakukan Hongki. KLENG. Botol cola-ku masuk ke tempat sampah.

“yaa! Aku pelempar yang handal kan?” aku menengokkan kepalaku dan kudapati Hongki menatapku. Tatapan itu lagi…aku tak suka tatapan itu. “kajima…” Hongki memegang bahuku. Ku paksakan bibirku tersenyum.

“maafkan aku Ki-ah, aku harus pergi.” Hongki membawaku ke dalam pelukannya. Oh god…bantu aku sekali ini, jangan biarkan air mata ini keluar.

“bagaimana jika banyak laki-laki yang melukaimu disana? Bagaimana jika banyak orang yang menjahatimu disana? Bagaimana jika mereka membuatmu tidak nyama disana? bagaimana… bagaimana jika….” Aku melepas pelukanku. Hongki menundukkan kepalanya. Pipinya basah.

“kau menangis bodoh. Tidak malukah?” aku menghapus air matanya. Hongki menatapku. Aku tersenyum, mencoba menyembunyikan wajah sedihku.

“geokjeongma…jika mereka melukaiku atau menjahatiku atau membuatku tidak nyaman, aku yakin Minhwan akan menjagaku dengan baik.”

Hening.

Hongki menghapus air matanya. “ki-ah…” ku tundukkan kepalaku. Sepasang orang tua yang sudah renta berjalan sambil bergandengan.

“bagaimana jika aku…menyukai Minhwan?” dan pertanyaan itu terlontar saja dari mulutku. Tanpa ku pikirkan dan tanpa ku pertimbangkan terlebih dahulu. Dasar bodoh.

“kau…menyukai minhwan?”

“nan molla. Geunde…aku merasakan waktu seakan berputar lamban saat bertatap mata dengannya. Aku merasakan kesepian saat ia tidak bersamaku dan aku merasakan kehilangan saat dia pergi meninggalkanku. Rasanya setiap detik ingin selalu disampingnya. Bukankah itu tanda-tanda seperti orang jatuh cinta? Dan akhir-akhir ini aku mengalami semua itu saat bersama Minhwan.”

Hening lagi. Cukup lama sampai akhirnya Hongki mengeluarkan suara. “chukhae,”

Author POV—

Minhwan tersenyum. Memandang dua makhluk berpasangan di depannya. “kenapa harus memutuskan untuk kuliah di Jepang? Memangnya disini tidak ada lagi universitas yang menurutmu bagus? Cish. Dasar anak pintar. Sombong sekali.” Celutuk Jaewon. Minhwan hanya terkekeh kecil.

“aish. Anak kecil, kau diam saja.” Minhwan mengacak-acak rambut Jaewon, yang di balas dengan tatapan tajam Hongki. Minhwan terkekeh untuk yang kedua kalinya. “choi minhwan! Don’t touch my girl!”

“ahahaha arasseo. Mianhe.” Minhwan menurunkan tangannya. Kemudian suasana menjadi hening sesaat. Minhwan tersenyum tipis. Kurang satu orang. Sedari tadi ia berharap gadis itu datang meskipun itu tidak akan mungkin, karena minhwan tau, gadis itu tengah pergi dengan keluarganya dan tidak bisa di batalkan. Tapi hati kecilnya masih berharap bahwa gadis itu akan berlari kearahnya dan memeluknya untuk yang terakhir kali.

“jangan memasang wajah seperti itu. Yeonae menitip salam padaku. Ia menitip permintaan maaf untukmu.” Hongki meletakkan tangannya di bahu Minhwan.

“aku tau. Jangan khawatir.”

Ding. Dong.

“ah, itu informasi untuk pesawatku.” Minhwan memeluk Hongki. “ku harap kau menjaganya lee hongki dan maafkan aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Aku akan mengirimkan hadiahnya saat aku sudah sampai di jepang.”

“cish. Dasar bodoh!” Minhwan tersenyum kemudian melepas pelukannya. Kemudian berjalan ke arah Jaewon.

“Choi Minhwan, jika kau kembali kesini, aku akan menghajarmu!”

“wae?”

“karena kau membuatku menangis!” Minhwan tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Jaewon.

“kalau begitu. Aku tidak akan kembali.”

“mwo?” Jaewon memandang Minhwan tak percaya.

“bercanda…”

“YAA!” Jaewon memukul bahu Minhwan. Sedangkan yang dipukul hanya tertawa. Minhwan mengambil kopernya. Kemudian tersenyum untuk yang terakhir kalinya kepada dua orang yang selama ini sudah ia anggap sahabat.

“na kalke.” Hongki dan Jaewon mengangguk.

“Ka!” Minhwan tersenyum, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan mereka.

Kang Yeonae…aku pergi. Jaga kesehatanmu. Sampai nanti…

Minhwan memasuki pesawat kemudian mencari tempat duduknya. Setelah menemukannya, ia duduk di kursinya. Kursi sampingnya sudah diduduki seorang perempuan. Di senderkan kepalanya kemudian memejamkan mata sejenak.

Minhwan membuka matanya perlahan. Dirasakan seseorang menggenggam tangannya lembut. Di tegakkan tubuhnya, kemudian terkejut mendapati gadis yang duduk di sampingnya tengah menggenggam tangannya. Apa-apaan ini.

“nona, kau mungkin salah orang.” Gadis itu hanya diam sambil menunduk. Rambut panjang yang lurus, dibiarkan tergerai begitu saja. Minhwan mencoba melihat wajah gadis disampingnya, hanya saja wajahnya tertutupi dengan topi, jadi Minhwan tidak bisa melihat dengan jelas gadis tersebut. Yang ia tau, gadis itu memiliki kulit yang putih bersih.

“permisi nona, kau mungkin salah orang.” Gadis itu masih diam dan masih tak mau melepaskan genggaman tangannya.

“nona, kau menggenggam tanganku.” Minhwan mulai jengkel dengan gadis disampingnya. Ini gila. Siapa gadis disampingnya ini? Minhwan menghembuskan nafas kesal kemudian melepas topi gadis itu.

“NO—“ Minhwan tak melanjutkan perkataannya. Terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya saat ini. Tidak mungkin. Ini tentu hanya halusinasinya saja. Gadis di depannya ini bukan Yeonae. Yeonae tengah pergi dengan keluarganya. Tapi… senyumnya, matanya, wajahnya, begitu nyata. Dia benar-benar…

“Yeon…Yeonae…?”

“annyeong!” Yeonae tersenyum kemudian melambaikan tangan kearah Minhwan.

“neo? Eottok….?” Minhwan masih tak percaya dengan semua ini. Bagaimana bisa Yeonae berada dalam pesawat dan duduk bersamanya. Bukankah gadis itu mengatakan pada Hongki bahwa dia…jangan bilang Yeonae dan Hongki…

“kau bilang kau ada acara. Jangan bilang kau dan Hongki…?”

“BING-O!”

“woah~ kang yeonae neo…aish jinjja!” Minhwan tertawa kemudian mencubit pipi Yeonae.

“aku memang sudah merencanakannya sejak lama. Sengaja aku tidak memberi tahumu. Aku berniat menjadikan ini kejutan untukmu, dan aku berhasilkan?”

“ya, kau berhasil membuatku sangat-sangat terkejut.” Minhwan tertawa kemudian mengacak-ngacak rambut Yeonae. Mereka tengah duduk di taman kota sambil menikmati malam hari di Jepang untuk yang pertama kalinya.

“kau mau coffee?” Minhwan mengangguk. “biar aku belikan.” Minhwan hendak beranjak, tapi Yeonae menahan lengan Minhwan. “aku saja. Kau duduk disini saja.”

“tapi…”

“sudah. Aku bisa berbahasa Jepang dengan baik. Tenang saja.” Yeonae mengedipkan sebelah matanya kemudian tersenyum dan berlari meninggalkan Minhwan yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Yeonae.

PING.

Minhwan menengokkan kepalanya ke sumber suara. Satu pesan suara masuk di HP Yeonae. Minhwan hendak meneriaki Yeonae, tapi gadis itu sudah terlalu jauh darinya. Minhwan mengambil Handphone Yeonae kemudian memandangi layarnya. Apakah ia harus membukanya? Siapa tau saja ini pesan dari orang tuanya yang sedang mengkhawatirkan Yeonae. Buka sajalah. Nanti baru minta maaf sudah lancang membuka pesan Yeonae. Minhwan menekan tombol hijau kemudian menempelkan benda mungil itu di telinga kirinya.

Minhwan tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Bukan. Ini bukan pesan masuk dari orang tuanya. Ini bukan pesan masuk dari orang tua Yeonae yang tengah mengkhawatirkan Yeonae. Ini pesan masuk dari…Hongki.

Minhwan meletakkan kembali handphone Yeonae ketempat semula. Jantungnya terasa sakit. Kesempatannya hilang. Kesempatannya hilang sudah. Ia tidak akan bisa mendapatkan Yeonae. Sekarang sudah teramat jauh untuk menggapainya. Hongki…Hongki…

“Minhwan,” Yeonae yang menyadari perubahan wajah Minhwan merasa khawatir. Apa yang terjadi dengan Minhwan? Adakah sesuatu yang buruk.

“oh, yeon, kau sudah kembali? Cepat sekali?” Minhwan menatap mata Yeonae kemudian tersenyum. Mata itu…kenapa sinar mata itu Minhwan miliki? Aku benci sinar mata itu.

“punyaku yang mana yeon?” Tanya Minhwan, menyadarkan Yeonae dari pikirannya. “ini,” Yeonae memberikan Minhwan satu cup Coffee yang baru di belinya.

“gomawo,” Minhwan mengambilnya kemudian meminumnya. Yeonae memerhatikan Minhwan kemudian duduk di samping Minhwan. Suasana hening menyelimuti mereka. Ada apa? Biasanya juga tidak begini. Yeonae memandang Minhwan kemudian menatap lurus kedepan. Diminumnya coffeenya yang masih hangat.

Minhwan menghembuskan nafasnya. Meminum coffeenya. Apa ini waktu yang tepat? Mungkinkah dengan cara ini, ia bisa kuraih? Harus dicoba. Jika tidak dicoba mana tau hasilnya. Ya. Aku harus mencobanya. Minhwan menengok kearah Yeonae. Mata mereka bertemu pandang. Minhwan meletakkan cangkir coffee-nya di samping tubuhnya.

“tadi Handphone-mu bunyi.”

“eoh?” Yeonae tersenyum.

“Ku pikir itu hal yang penting. Jadi aku mendengarkan pesan suara itu, tanpa meminta izinmu terlebih dahulu. Maaf sudah lancang.”

“gwenchana…”

Hening.

Minhwan kembali menatap lurus kedepan. “Hongki…”

“E?” Minhwan menengok kearah Yeonae lagi. “pesan itu dari Hongki.” Hening. Baik Yeonae atau Minhwan diam. Hanya mata mereka yang berbicara dan detak jantung mereka yang berdebar kencang.

“Yeon-ah,”

“….”

“aku sudah pasti kalah jika dibandingkan dengan Hongki. Aku tidak setampan Hongki dan tidak mengenalmu selama Hongki mengenalmu.Geundae…” Minhwan mengambil tangan kiri Yeonae. Kemudian menggenggamnya.

“Geundae…akan ku pastikan aku mencintaimu lebih lama dari Hongki.” Yeonae menatap mata Hongki tak percaya. Mata itu. Sinar mata kesungguhan. Minhwan sungguh-sungguh malam ini. Detak jantungnya berdebar tak karuan. Bahkan Yeonae takut Minhwan bisa mendengar debaran jantungnya.

“Jika memikirkan seandainya dulu aku begini, atau seandainya aku begitu terus, yang ada hanya rasa skit hati dan penyesalan yang timbul dan berakhir dengan menyalahkan takdir.”

“untuk apa menyalahkan takdir, kan? Karena itu tidak akan merubah semuanya. Mungkin saja, walaupun aku mengenalmu lebih dulu dari Hongki, kau akan tetap memilihnya.”

“Hajiman,”

“…”

“Hajiman, jika kau denganku, tak akan ku biarkan kau menangis. Tak akan ku biarkan pipi mulusmu basah.”

“asalkan kau denganku, tak akan ku biarkan orang lain menyakitimu.”

“asalkan kau denganku, akan ku pastikan mataku hanya menatapmu. Akan ku pastikan pikiranku hanya ada namamu dan akan ku pastikan hatiku hanya milikmu.”

“asalkan kau bersamaku, aku tak apa jika kau menjadikanku pelarian dari Hongki.”

“asalkan kau bersamaku, aku rela melindungimu. Meskipun tulang-tulangku patah. Meskipun nyawaku taruhannya, akan aku lakukan.”

“aku mencintaimu Kang Yeonae. Jika kau memintaku menunggu, akan aku lakukan. Hajiman, jangan pernah memintaku menjauhimu. Karena aku tak akan sanggup melakukannya. Karena bagiku, kau seperti kaki yang membuatku mampu berdiri dan berjalan. Karena bagiku, kau seperti udara yang membuatku bisa bernafas. Karena bagiku, kau seperti bintang yang membuatku tak merasa kesepian.” Yeonae terdiam. Bukankah yang dikatakan Minhwan adalah perasaannya? Bukankah yang dikatakan Minhwan dari hatinya. Wanita yang beruntung itu adalah Yeonae. Wanita yang selalu diirikan Yeonae selama ini adalah dirinya sendiri. Dan…inikah perasaan bagaimana rasa cinta yang terbalaskan?

Yeonae menunduk kemudian memainkan cangkir coffee-nya. “kau tidak perlu menjadi Hongki, dan kau juga tidak perlu untuk mengalahkannya. Karena bagiku… kau pemenangnya.”

Yeonae menegakkan kepalanya, menatap lurus sejenak kemudian menatap mata Minhwan dan tersenyum manis. “Maka lakukanlah Choi Minhwan.” Minhwan menegakkan tubuhnya. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Yeonae. Tak percaya prediksinya selama ini salah. Yeonae menerimanya.

Hongki menatap layar Handphonenya. Masih tidak ada balasan darinya. Disenderkan kepalanya, kemudian memejamkan mata sejenak. Dirasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Ditegakkan tubuhnya, mengetahui siapa yang menggenggam tangannya.

“eomma…” Hongki tersenyum kemudian menatap sang ibu dengan lembut. Sinar mata hangat itu lenyap entah kemana, yang ada sinar mata lelah dan sedih terpancar dimatanya.

“Eomma dengar Yeonae pergi ke Jepang tadi.” Hongki tersenyum kemudian mengangguk kecil.

“kapan ia akan kembali?” Hongki menggeleng pelan.

“tidak tau. Yeonae tidak mengatakan akan kembali kapan. Katanya mungkin dua tahun sekali. Atau setelah lulus kuliah. Atau bahkan…tidak sama sekali kembali ke korea.”

Hening.

Hongki menatap kosong ke depan. Saat ini mungkin ia sudah terlihat seperti orang yang sangat butuh di kasihani. “eomma…” Hongki menatap sang ibu. Air matanya sudah mengumpul di kelopak matanya.

“aku lelah…” Mrs.Lee memeluk anak laki-lakinya dan air mata Hongki keluar begitu saja. “aku laki-laki bodoh eomma…” terisak. Hongki terisak di pelukan sang ibu. Hatinya terasa sakit. Teramat sakit. Saking sakitnya sampai Hongki tak merasakan sakit di hatinya lagi.

“aku laki-laki bodoh eomma…aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi aku malah melepaskannya dengan alasan yang tidak jelas.”

“aku lelah eomma…aku lelah berpura-pura bahwa aku hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang sahabt. Padahal jantung ini berdetak kencang saat melihat wajahnya. Padahal aku selalu ingin berteriak bahwa aku mencintainya. Padahal pikiran ini selalu tersita olehnya. Padahal mata ini selalu menatapnya sebagai wanita satu-satunya. Padahal hati ini selalu meneriaki namanya. Padahal aku selalu ingin memeluknya, menjadikannya sandaran dang menghapus air matanya saat ia menangis.”

“aku lelah berpura-pura tidak tau jika selama ini ia sering menangis karenaku. Aku lelah berpura-pura tidak menyadari bahwa dia juga mencintaiku. Aku lelah menyembunyikan segalanya darinya. Aku lelah eomma…” Langit Korea seakan turut menyesal dan turut ikut dalam tangisan.

Kang Yeonae…aku tau ini kesalahanku. Jika aku bisa, aku akan memutar waktu dimana ini tidak akan terjadi…

-THE END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s