Selamat Pagi

   Image

Tittle  : Selamat Pagi

Cast          : Kim Soo Hyun (Dream High)
Other Cast: Kim Eun Soo, So Hyun’s eomma, So Hyun appa, Guru Kim

Author: Arintya PF

Twitter: @arintyawidd

Note   : ASTAGA! author parah banget ini. ini sebenernya FF yang pernah di lombain waktu itu dan ini FF yang menang. mianhae 😦 soalnya flashdisk mimin yang nyimpen data ini ngilang dan ga punya copiannya 😦 jeongmal mianhaeyo… so… Happy reading ya. semoga suka^^

****

“Selamat pagi, Eun Soo,”ucapku saat melihatnya membuka mata.

                                “Oppa, selamat pagi,”senyum mengembang dari bibir manisnya.

 

***

                                “Soo Hyun-ah, Soo Hyun-ah!”aku mendengar teriakan eomma dari dalam kamar. Seketika aku bangun kemudian berlari menuju eomma.

                                “Waeyo, eomma?”tanyaku panik.

                                “Siapkan mobil. Siapkan mobil,”kulihat eomma menangis sambil memeluk Eun Soo yang terkulai lemah. Wajahnya pucat. Tanpa berpikir panjang aku segera membuka garasi dan menghidupkan mobil.

                Tuhan, ada apa dengan Eun Soo. Tolong selamatkan dia. Sembuhkan dia. Biarkan aku saja yang menggantikan posisi Eun Soo.

 

***

                                “Keadaan nona Eun Soo sudah semakin parah. Kanker sudah menyerang hampir 60% dari paru-parunya. Untuk saat ini kita hanya bisa memasang slang untuk membantunya bernafas,”ucap dokter yang menangani Eun Soo.

Eomma sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Digenggamnya tangan Eun Soo dengan erat. Sementara aku berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.

                Semalaman eomma merawat Eun Soo tanpa tidur sedikitpun. Aku khawatir dengan keadaan eomma. Apalagi semalam Eun Soo harus dipindahkan ke ruang ICU.

                                “Eomma, pulanglah. Biar aku saja yang menjaga Eun Soo. Eomma butuh istirahat,”kataku perlahan.

                                “Anni. Kau saja yang pulang. Kau harus sekolah. Sebentar lagi kau kan ujian, Soo Hyun-ah,”ucap eomma dengan lembut sambil mengelus rambutku.

                                “Tapi eomma?”

                                “Soo Hyun-ah, gwenchana,”eomm tersenyum tipis.

Aku tak bisa berbuat banyak. Yang bisa kulakukan hanya menuruni perintah eomma untuk pulang kerumah.

 

***

Dirumah aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku pergi ke kamar Eun Soo. Sepi. Si penghuni kamar ini sedang berjuang melawan maut yang kapan saja bisa datang.

Kim Eun Soo adalah seorang gadis cilik berusia lima tahun. Dia adalah adikku satu-satunya yang paling aku sayang. Dia menderita penyakit kanker paru-paru sejak kecil. Namun, aku salut dengan keteguhannya melawan penyakit itu. Sejak usia tiga tahun ia sudah mengalami dua kali operasi pengangkatan sel kanker. Walaupun sakit, ia tak akan menangis. Aku masih ingat kata-kata sebelum ia dioperasi dua tahun yang lalu.

                “Oppa, selamat pagi. Hari ini aku akan dioperasi kan? Aku tidak menangis. Aku kan pasti sembuh, Oppa.”

Hobi Eun Soo adalah mengucapkan selamat pagi untukku. Hampir setiap pagi, ia menggedor-gedor pintu kamarku hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Pernah suatu kali saat aku sedang berada di Jinan, ia keluar rumah sendirian untuk menelponku ditelepon umum hanya untuk mengucapkan selamat pagi untukku.

                “Oppa, selamat pagi. Aku menyanyangimu,”ucapnya.

 

***

 

Saat aku hendak pergi kesekolah, terlihat sebuah mobil berhenti tepat didepan pintu gerbang. Seorang lelaki mengenakan jas hitam keluar dari mobil. Karena sudah menduga siapa lelaki itu, aku berlalu tanpa sedikitpun menoleh padanya.

“Soo Hyun-ah, tunggu dulu.”lelaki itu menarik tanganku. Dengan sigap, aku mengelak.

“Soo Hyun-ah, appa mau bicara denganmu,”

Saat mendengar kata “Appa” aku berhenti dan menoleh kearahnya.

                                “Appa? Masih berani menyebut dirimu dengan appa?”aku menatap tajam kedua mata lelaki itu.

                                “Soo Hyun-ah, bagaimana keadaan Eun Soo?”lelaki itu mendekatiku.

                                “Apa urusanmu dengan Eun Soo? Dia baik-baik saja tanpamu,”ujarku ketus. Aku berjalan meninggalkannya.

                                “Appa tau Eun Soo masuk rumah sakit. Ijinkan appa untuk melihatnya Soo Hyun-ah!”teriaknya.

Kontan aku berbalik arah dan berjalan mendekatinya. Entah sadar ataupun tidak, aku melayangkan pukulanku ke wajahnya. Lelaki itu terkapar jatuh dihalaman. Kulihat sudut bibirnya mengeluarkan darah.

                                “Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapan Eun Soo dan eomma!”teriakku.

 

***

 

                Kim Hee Soo adalah nama yang paling kubenci didunia ini. Lelaki paling kejam yang pernah kutemui. Bagaimana tidak? Ia meninggalkan aku dan eomma demi wanita kaya itu. Ia meninggalkan kami saat eomma sedang mengandung Eun Soo. Dan yang paling membuatku amat membencinya adalah saat kami datang  kerumahnya untuk meminta sedikit bantuan untuk membantu biaya rumah sakit Eun Soo, lelaki itu dengan kejam mengusir kami. Eomma yang pantang menyerah menyuruhku untuk pulang, sementara ia tetap menunggu didepan rumah lelaki itu. Malamnya, betapa kagetnya diriku saat melihat eomma pulang basah kuyub dengan muka memar. Aku yakin, itu adalah perbuatan lelaki kejam itu.

                Hidup kami serba kekurangan. eomma membuka warung ramen didepan rumah untuk menghidupi kami. Sementara aku harus bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran dan susu. Untunglah ada teman eomma yang baik hati, membantu mencarikan beasiswa untukku sehingga aku dapat menempuh pendidikan SMA dengan gratis.

 

***

 

                                “Soo Hyun-ah, gwenchana?”Tanya Guru Kim, teman baik ibuku sekaligus guru disekolahku.

                                “Gwenchana, Songsengnim.”jawabku singkat.

                                “Aigoo, kau tidak bisa membohongiku. Wajahmu pucat dan kedua matamu merah. Apa semalam kau tidak tidur? Apa kau ada masalah?”guru Kim terus bertanya.

                                “Anneyo. Tidak ada apa-apa ahjumma,”kataku.

                                “Hya! Sudah kubilang untuk tidak memanggilku ahjumma saat disekolah! Ishh,”Guru Kim memukulku kepalaku pelan.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Guru Kim sudah kuanggap sebagai bibiku sendiri. Dialah orang yang baik hati yang telah membuatku bisa belajar di SMA secara gratis.

                                “Hya, Soo Hyun-ah. Bagaimana kabar eomma-mu? Aku sudah lama tidak mengunjunginya? Apa warung ramennya ramai? Bagaimana kesehatan Eun Soo?”Guru ini memang banyak bicara.

Aku diam saja. Aku tidak mau orang lain tau tentang masalah keluarga kami.

                                “Soo Hyun-ah, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri.”Guru Kim mengeluarkan kata-kata pamungkasnya agar aku mau buka mulut.

                                “Eun Soo, Eun Soo masuk rumah sakit,”aku menunduk.

                                “Mwo? Jinjaeyo?”nada suara Guru Kim mulai meninggi.

Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi semalam. Tak lupa aku juga menceritakan tentang kejadian tadi pagi padanya.

 

***

 

Sepulang sekolah aku mampir untuk membeli kue kacang merah dan susu pisang kesukaan Eun Soo di Super Market dekat Rumah Sakit. Saat akan membayar dikasir, ada seorang wanita berkacamata hitam mendekatiku.

                “Ambil saja, biarkan aku saja yang bayar. Kau pulanglah,”seketika aku menengok kearahnya. Aku tersenyum kecut kepadanya.

                “Maaf, eomma melarangku mengambil sesuatu yang bukan hak ku,”aku pergi meninggalkan wanita kaya itu tanpa mengambil uang kembalian.

 

Saat akan memasuki kamar inap Eun Soo, betapa kagetnya aku saat melihat sosok lelaki yang tadi pagi aku pukul. Ia berdiri menghadap Eun Soo sambil mengengam tangan kecilnya. Eomma tidak ada diruangan, mungkin sedang berada diruang dokter.

Aku masuk tanpa mengetuk pintu, lalu menyeret lelaki itu keluar. Aku membawanya keluar rumah sakit. Kami saling beradu tatap.

                                “Eun Soo sudah besar, ya?”ucapnya tanpa dosa.

                                “Kau lihat kan, Eun Soo bisa tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah. Jadi untuk terakhir kalinya aku memohon, jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapannya!”nada suaraku meninggi. Tak peduli semua orang menatapku. Aku mencoba untuk  menahan emosiku.

                                “Soo Hyun-ah, appa—,”

                                “Jangan pernah memanggil dirimu Appa dihadapanku,”aku berjalan meninggalkannya. Air mataku tak terbendung lagi saat ingatan tentang kelakuannya kepada eomma muncul. Aku berjalan sambil terus mengelap air mata yang terus mengalir.

 

***

 

                                “Oppa!”suara serak menyambutku saat memasuki kamar inap Eun Soo. Aku mematung dihadapan Eun Soo. Adik kecilku sudah sadar, gadis kecilku sudah sadar. Tanpa sedikitpun bersuara aku berlari lalu memeluk Eun Soo. Tubuh kecil itu membalas pelukanku.

                                “Oppa, selamat pagi. Maaf aku bangunnya kesiangan,”ucapnya. Aku masih memeluknya. Air mata yang tadi sempat berhenti mengalir, kini kembali membanjiri kedua mataku.

                                “Sebelum sadar, ia sempat menyebutkan namamu,”eomma memeluk kami berdua.

Segera aku menghapus air mataku. Wajah Eun Soo masih pucat, namun senyum tetap menghiasi wajah manisnya.

                                “Eun Soo-ah, Oppa membelikannmu kue kacang merah dan susu pisang. Kalau besok kau sudah boleh makan, kau boleh makan semuanya,”ucapku.

                                “Jeongmal? Oppa gomawo,”kembali gadis kecil itu memelukku.

 

***

                                “Eomma, pulanglah. Sudah hampir tiga hari eomma tidak tidur. Biarkan aku yang menjaga Eun Soo malam ini,”ucapku pada eomma. Wajah eomma juga tampak lemah dan pucat. Mata eomma juga masih sembab karena terus dibanjiri air mata.

                                “Keunde, Soo Hyun-ah,”aku tau eomma akan enggan pulang.

                                “Eomma, eomma juga harus sehat. Eomma tidak mau kan, Eun Soo melihat eomma seperti ini terus-terusan?”aku mengenggam tangan eomma. Eomma akhirnya mengangguk pelan.

                                “Aku akan mengantar eomma mencari taksi,”

                                “Anneyo. Kau sebaiknya menjaga Eun Soo disini. Ia akan menangis jika terbangun dan tidak ada orang disisinya,”eomma menolak.

Aku menarik nafas panjang. Aku hanya bisa mengantar eomma sampai lobi rumah sakit.

Saat aku kembali dari lobi Rumah Sakit, aku mendapati Eun Soo menangis.

                                “Eun Soo-ah, gwenchana?”aku takut terjadi sesuatu padanya.

                                “Oppa, aku takut sendiri.”isaknya. Akupun memeluknya.

                                “Oppa, bolehkah aku makan kue kacang merahnya? Aku sangat lapar,”

                                “Tapi dokter belum bilang kau boleh makan. Tunggulah sampai besok, Eun Soo-ah,”kataku padanya.

                                “Oppa….”Eun Soo mulai merengek.

Aku tidak sanggup melihatnya kembali menangis. Akhirnya akupun membuka bungkus kue kacang merah dan membiarkan Eun Soo memakannya. Aku menemani Eun Soo makan kue kacang merah hingga hampir subuh.

                                “Eun Soo-ah, sudah waktunya kau tidur. Oppa akan menjagamu disini,”

Eun Soo menggeleng dan ia sibuk meminum susu pisangnya.

                                “Oppa, bolehkan aku meminta sesuatu sebelum tidur?”tiba-tiba Eun Soo berkata seperti itu padaku.

                                “Aku mau melihat matahati terbit. Setelah itu aku janji akan tidur,”

                                “Tapi Eun Soo-ah, kau belum boleh keluar kamar. Besok kalau sudah sembuh, Oppa janji akan mengajakmu melihat matahari terbit diatap rumah,”jawabku pelan. Dan seperti yang aku duga, Eun Soo menangis lagi.

                                “Oppa jahat, aku ingin melihat matahari terbit disini. Oppa, Oppa,”tangis Eun Soo semakin keras. Lagi-lagi  aku tidak tega melihatnya seperti itu.

Aku memakaikan Eun Soo jaket tebal. Mata Eun Soo masih sembab karena menangis tadi.

                                “Oppa, aku ingin memakai jaketmu itu,”Eun Soo menunjuk jaket yang tengah aku pakai. Aku melepaskan jaketku dan memakaikannya pada Eun Soo.

 

***

                                “Oppa, gwenchana?”Tanya Eun Soo padaku. Udara pagi itu sangat dingin, apalagi aku hanya memakai selembar kaos.

                                “Gwenchana Eun Soo-ah,”jawabku agak gemetaran.

Aku mendekap Eun Soo diatap Rumah Sakit. Tak kubiarkan dingin menyentuh adik kecilku itu. Aku membungkus Eun Soo dengan jaketku dan selimut tebal. Didalam pelukanku ia masih asyik meminum sebotol susu pisang.

                                “Oppa, aku ingin mendengarmu menyanyi lagu 3 Beruang. Aku tidak bisa tidur kalo tidak mendengar lagu itu. Oppa harus menyanyikannya sampai habis,”Eun Soo kembali merengek didalam dekapanku.

                                “Janji ya, Eun Soo akan tidur kalau Oppa menyanyikan lagu itu?”kurasakan Eun Soo mengangguk-angguk.

                                “Kom sema ri yo han chi be yi so—“ akupun mulai menyanyikan lagu kesukaan adik kecilku itu.

                                “Oppa, selamat pagi. Eun Soo sayang Oppa,”kata Eun Soo pelan.

Mentaripun menampakkan dirinya. Sinarnya terlihat jelas memancar dengan indahnya.

                                “Appa gom, eomma gom, ae gi gom, appa gommun—-“

Tiba-tiba aku melihat botol susu pisang Eun Soo terjatuh. Aku menghentikan nyanyianku.

Deggg….

Dunia seakan berhenti berputar. Air mata ini mengalir lagi.

                                “Eun Soo-ah? Apakah kau kedinginan? Oppa akan memelukmu lebih erat lagi,”kataku terisak.

                                “Appa gommun tung tung hae, eomma gommun—-“pedih ini tak tertahan lagi.

Aku memeluk tubuh kecil Eun Soo lebih erat. Aku mengenggam jemari Eun Soo yang kian mendingin.

                                “Eomma gummun nal shin hae, aegi gommun na bul gwi yow o, hishuk hishuk cha ran da,”dengan susah payah aku berusaha mennyelesaikan lagu itu walaupun dengan terisak.

                                “Eun Soo-ah, kau gadis manis. Kau menepati janjimu untuk tidur saat aku menyanyikan lagu ini,”

                                “Selamat pagi, Eun Soo-ah. Oppa menyayangimu selalu,”aku mendekap tubuh kecil yang telah dingin itu. Aku terisak mendekapnya.

 

***

                                “Soo Hyun-ah,”seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. Tiba-tiba lelaki itu mendekapku. Aku mendengarnya menangis.

                                “Soo Hyun-ah, mianeyo. Jeongmal mianhae. Appa memang ayah yang tidak berguna,”entah kenapa aku membalas pelukan lelaki itu walaupun tanpa bersuara.

 

***

 

Aku memeluk eomma. Kami berdiri dihadapan guci tempat abu Eun Soo disimpan.

                                “Selamat pagi, Eun Soo-ah, kami datang untuk menjengukmu lagi. Lihat, Oppa dan eomma membawakanmu susu pisang,”aku meletakkan satu botol susu pisang di samping guci.

                                “Eun Soo-ah, jangan menangis nak. Eomma dan Oppa tidak akan menangis lagi. Eun Soo bermainlah disana. Eomma dan Oppa sangat mencintai Eun Soo,”eomma berkata sambil berkaca-kaca. Tapi beliau berusaha untuk tidak menangis. Eomma begitu erat mengenggam tanganku.

                                “Bermainlah disana, Eun Soo-ah. Boghosipoyo,”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s