Promise

Tittle    : Promise

Author : SRM (@Ryominwook)

Lenght : oneshoot

Genre   : Romance, Friendship, Family

Cast     : -Kim Han Jae (OC’s)

-Jung Daehyun (B.A.P)

-Moon Jong Up (B.A.P)

-BAP member

Note: YES SIR WADDAP?! u.u)/ Author balik. astagaaa berapa lama author ga ngepos FF. maaf-maaf author sibuk banget *asik bisa sibuk-_-* FF baru nih woiiiii~ Castnya masih seger-seger(?) baru dipetik dari kebunnya(?) udah ah jadi ga jelas. oh ya, FF ini ga murni dari author, tapi author ga plagiat, thanks to BAPIndonesia yang sudah memberikan imagine-imagine yang keren dan romantis, sehingga author termotivasi untuk membuat FF. MERDEKA!(?) ok deh. Happy reading guys. Plagiator zamban sazahhhh u.u oh iya, komennya boleh~ biar dapet pahala di bulan puasa u,u

@@@

“Kim Han Jae, kalaupun saat itu aku tidak berjanji padamu, pada dasarnya jantung ini tetap tidak akan berdebar untuk wanita lain selain kau. Mata ini tetap tidak akan melihat wanita lain selain kau. Pikiran ini tetap hanya ada dua wanita, kau dan ibuku dan ruang di hatiku hanya untukmu dan akan tertutup rapat sampai maut benar-benar memisahkan kita.” -Jung Daehyun

“ia….akan segera menikah dengan wanita lain Jongie…bukan denganku….” –Kim Han Jae

“Kau…sudah menutup hatimu untuk dirinya. Menutupnya sangat rapat, sampai tak ada celah untuk aku masuk ke dalamnya.” Moon Jong Up

@@@

“Maaf aku telat.” Diduduki tubuhnya di depan sang gadis.

“kau telat Jung Daehyun.” Kata sang gadis dengan pandangan penuh kesal. Laki-laki yang di panggil Jung Daehyun hanya mengangguk kemudian memegang tangan sang gadis.

“aku tau chagi-ya, maafkan aku. Tadi dosenku—“

“sudahlah lupakan saja. Aku tak mau dengar alasanmu.” Kata sang gadis memotong penjelasan Daehyun.

“heii ada apa denganmu, Han Jae-ku?” Tanya Daehyun, sedikit mengkhawatirkan kekasihnya ini. Gadis yang bernama Han Jae hanya terdiam. Pandangannya menatap kosong segelas cangkir cappuccino hangat.

“kau marah karena aku telat? Maafkan aku.” Daehyun mengelus lembut punggung tangan kekasihnya. Han Jae menatap Daehyun dengan pandangan entahlah, kesal bercampur sedih. Air matanya sudah mengumpul di kelopak matanya dan perlahan air matanya mulai membasahi pipinya.

“Hei, kenapa kau menangis?” Daehyun kaget melihat kekasihnya menangis. Dengan lembut ia menghapus air mata Han Jae dengan ibu jarinya.

“kau bodoh Jung Daehyun.” Daehyun tersenyum kemudian mengangguk. “ara….mianhae….”

“kau benar-benar bodoh dan aku membencimu!”

“……”

“Hiks….” Air mata Han Jae semakin mengalir deras. Tangannya menggenggam tangan daehyun yang masih menempel di pipinya. Menggenggamnya erat. Sangat erat.

“bagaimana bisa, kau bersikap setenang ini saat aku akan pergi meninggalkan Korea dengan jangka waktu yang lama?! Apa kau tidak tau bahwa aku akan pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliahku? Apa kau bodoh Jung Daehyun?!” tubuh Han Jae bergetar, air matanya semakin menderas dan lagi, laki-laki di depannya hanya tersenyum.

“aku tau…untuk apa aku sedih? bukankah itu bagus?”

Han Jae membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Daehyun katakan beberapa detik yang lalu. “Mwo?!”

“bukankah ini adalah impian yang sedari dulu kau impikan? Pergi ke Jerman dan menuntut ilmu disana. Seharusnya kau senang dan tidak menangis seperti ini eoh?”

Hening.

“aku…tidak ingin pergi. Kumohon, cegah aku untuk tidak pergi ke sana….”

Daehyun membulatkan matanya. “apa aku gila?! Tidak akan! Aku tidak akan mencegahmu untuk hal ini!” Daehyun berdiri kemudian duduk di samping gadisnya. Membawa gadisnya kepelukannya. “pergilah…. dan kembali sebagai Han Jae-ku nanti.” Han Jae semakin menangis dipelukannya. Sesekali Daehyun mencium puncak kepala Han Jae. Setelah dirasa Han Jae sudah tenang, Daehyun melepas pelukannya, kemudian mencium kedua mata Han Jae dan menghapus sisa air matanya.

“lagipula kita masih bisa berkomunikasi lewat telepon atau internetkan?” Han Jae menggeleng. “wae?” Tanya Daehyun sedikit bingung saat Han Jae menggelengkan kepalanya.

“aku akan sangat sibuk disana.” Daehyun menatap Han Jae sambil menahan tawanya. “wae?!” Tanya Han Jae, Daehyun hanya tersenyum semakin lebar kemudian mengacak rambut gadisnya lembut.

“aku yakin, meskipun kau sibuk, kau tetap akan mengangkat telepon dariku.” Daehyun tersenyum penuh dengan bangga. Membuat Han Jae membulatkan matanya tak percaya. Sungguh, namjachingunya benar-benar laki-laki narsis.

“percaya dirimu terlalu tinggi Tuan Jung.”

“ini bukan percaya diri, tapi fakta.”

“Mwo?”

“mau taruhan?”

“taruhan?” Daehyun mengangguk kecil.

“Jika kau benar-benar sibuk dan tak sempat mengangkat teleponku, maka kau boleh menghukumku apa saja. Tapi kalau kau selalu mengangkat teleponku, maka aku tidak akan meneleponmu lagi selama 3 tahun.”

“Mwo?! Mana bisa begitu?! Dasar Jung Daehyun bodoh!”

@@@

Incheon, 12 Maret 2000

Daehyun dan Han Jae terduduk sambil menunggu keberangkatan Han Jae ke Jerman. Sedari tadi mereka hanya duduk sambil berpegangan tangan. Daehyun berdiri, “kau mau kemana?” Tanya Han Jae.

“aku ingin ke toilet.”

“tidak boleh!”

“mwo?! Bahkan aku hanya ingin ke toiletpun tidak boleh?” Han Jae menghela nafasnya kemudian melepas genggaman tangannya.

“pergilah,” wajah Han Jae menunduk lesu, membuat Daehyun kembali duduk di tempatnya. Mengurungkan niatnya untuk pergi ke toilet.

“baiklah, aku akan menemanimu. Sini,” Daehyun menarik kepala gadisnya kemudian meletakkan di bahunya.

“ada apa denganmu chagi-ya? Tidak biasanya kau seperti ini?” jujur, sejak pertemuan kemarin sampai hari ini Daehyun tidak mengerti dengan sikap gadisnya yang menurutnya berubah 180º “bahkan aku tidak diperbolehkan untuk ke toilet.” Han Jae menjauhkan kepalanya, wajahnya terlihat kesal. “aku tidak melarang oppa. Bukankah tadi sudah aku katakan oppa bisa pergi ke toilet, tapi oppa malah kembali duduk.” Daehyun menghela nafasnya. Baiklah, ia menyerah.

“baiklah…lupakan yang tadi. Tapi chagi-ya, akhir-akhir ini kau sedikit….errr….sensitive”

“bagaimana aku tidak sensitive? Aku akan meninggalkanmu 3 tahun! Kau pikir itu waktu yang sebentar?! 3 tahun tanpamu, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku selama 3 tahun itu. Dan kau malah seperti tidak terlihat sedih dan berat sama sekali. Dan sekarang aku malah ragu oppa tidak menc—“ Daehyun membungkam mulut Han Jae dengan ciumannya. Tes. Air mata Han Jae mengalir perlahan. Daehyun melepas ciumannya, kemudian mencium kelopak mata Han Jae.

“tidak sedih? Hei, kau yeojachinguku. Mana ada namjachingu yang tidak sedih di tinggal kekasihnya merantau ke negeri orang selama 3 tahun? Tapi untuk apa aku sedih? Setelah 3 tahun kau akan kembali ke pelukanku lagikan? Dan….kumohon….jangan pernah ragukan perasaan cintaku padamu. karena perasaanku padamu tak pernah main-main.” Daehyun tersenyum lembut, Han Jae menghambur kepelukannya.

“oppa…. Berjanjilah, berjanjilah padaku bahwa hanya ada aku yang kau cintai. Berjanjilah padaku bahwa jantungmu tidak akan berdebar di dekat wanita lain selain aku. Berjanjilah bahwa kau tidak akan memikirkan orang lain selain aku. Berjanjilah bahwa kau akan menungguku selama 3 tahun. Berjanjilah….” Daehyun melepaskan pelukan Han Jae.

“aku berjanji. Aku, Jung Daehyun, Berjanji tidak akan mencintai wanita lain selain Kim Han Jae. Berjanji tidak akan memikirkan wanita lain selain ibuku dan Kim Han Jae dan berjanji akan menunggumu selama 3 tahun. Dan satu lagi janjiku padamu,” Daehyun mengambil kotak kecil di saku jaketnya, kemudian membukanya. Membuat Han Jae menatap benda berbentuk lingkaran di depannya tak percaya.

“berjanji akan menikahimu setelah kau kembali dari Jerman.” Daehyun tersenyum kemudian memakaikan benda berbentuk lingkaran itu dan memakainya di tangan Han Jae. Han Jae tersenyum kemudian memeluk Daehyun. Air matanya kembali mengalir. Air mata kebahagiaan. “aku percaya oppa akan menepati janjimu. Aku sangat percaya dan kumohon tepatilah dan jangan membuatku kecewa padamu Jung Daehyunnie-ku.”

Han Jae melepas pelukannya, menatap laki-laki di depannya sekali lagi. Ia akan merindukan wajah ini. Pasti. “hei, bagaimana jika aku akan mengunjungimu di Jerman, yaa itung-itung sekalian jalan-jalan ke sana.” Han Jae menggeleng pelan. “wae? Shireo?”

“oppa akan membunuhku setelah kau kembali dari jerman.”

“baiklah….aku tidak akan mengunjungimu jika itu maumu.” Daehyun tersenyum kemudian mengelus rambut Han Jae lembut.

Ting Tong. Pesawat SQ1245 tujuan Frankfurt-am-Mainz akan berangkat 15 menit lagi.

“nah, itu panggilan pesawatmu. Masuklah,” Han Jae mengangguk, kemudian berdiri dan mengambil kopernya yang terletak tak jauh darinya.

“3 tahun tak akan lama. Percayalah.” Han Jae mengangguk kemudian memeluk Daehyun erat. Pelukan terakhir di Korea, dan tak akan memeluk tubuh kekarnya lagi selama tiga tahun. Pasti ia akan merindukan wangi khas tubuh namjachingunya disana. Setelah dirasa cukup, mereka melepas pelukannya.

“dae oppa, nae kanda~” Daehyun mengangguk. Han Jae berbalik, dan berjalan meninggalkan Daehyun. Baru beberapa langkah, Han Jae membalikkan tubuhnya, kemudian berlari dan mencium bibir Daehyun. Membuat Daehyun sedikit kaget, namun sedetik kemudian ia membalas ciuman Han Jae. Tidak ada nafsu disana, hanya ada kasih sayang yang mereka salurkan. Perlahan ciuman mereka terlepas dan Daehyun membawa Han Jae kepelukannya.

“oppa jaga kesehatan disana. Makanlah yang banyak.”

“kekeke~ kau lupa, namjachingumu ini tidak akan pernah lupa dengan makan?” Han Jae hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Saranghae Kim Han Jae.” Han Jae tersenyum dalam pelukannya “Nado saranghae Jung Daehyun.” Han Jae melepaskan pelukannya dan berbalik tanpa menatap Daehyun lagi. Ia takut tak bisa melangkahkan kakinya karena melihat Daehyun.

Aku akan merindukannya batin Daehyun saat sosok yang ia cintai tak terlihat oleh pandangannya. Cepat kembali chagi-ya, dan setelah 3 tahun berlalu, kita akan kembali seperti dulu dan akan aku jadikan kau, Kim Han Jae, sebagai istri dari seorang Jung Daehyun.

@@@

3 tahun kemudian….

Berlin, 11 Maret 2003

“chagi-ya, besok kau pulang bukan? Aku benarkan?” Han Jae tertawa kecil. Sungguh, namjachingunya benar-benar tak berubah. Begitu childish. “emm….sepertinya akan diundur sampai minggu depan.”

“MWO?!” Han Jae menjauhkan benda mungil tersebut dari telinganya.

“oppa…aku tak ingin tuli di usia mudaku.”

“mianhae…tapi…mana bisa seperti itu! Pokoknya aku tidak mau tau, kau harus kembali ke Korea besok. Titik.”

“eiii dasar bodoh! Mana bisa seperti itu! Memangnya oppa yang mengatur jadwal kepulanganku? Lagi pula dosen tampanku masih membutuhkanku.”

“Mwo?! Dosen….tampanmu?”

“ne. wae?”

“kau berselingkuh Kim Han Jae?!”

“kalau iya bagaimana?”

“MWO?!”

“hahaha….tentu saja tidak. Oppa masih yang pertama dan mungkin yang terakhir.”

“mungkin? Kau masih ragu aku akan menjadi penutup hatimu dari laki-laki lain?”

“mollang~ ah, oppa masih menepati janji oppakan?”

“tentu saja.”

“emm…. Benarkah? Haruskah aku percaya pada oppa?”

“tentu saja kau harus percaya dengan pacarmu yang sangat tampan ini.”

“kekeke~ baiklah, aku percaya dengan pacarku yang sangat gembul ini.”

“YAK!” Han Jae tertawa kecil.

“Kim Han Jae….”

“Em?”

“Saranghae….”

“…..”

“Jeongmal Saranghae….”

“kututup ya?”

“hei! Mana bisa menutup telepon orang sebelum membalas ungkapan hati seseorang?!”

“aku bisa melakukannya!” samar terdengan hembusan nafas kekalahannya. Han Jae hanya tersenyum.

“Nado…. Nado saranghae Jung Daehyun.” Tututut… Han Jae mematikan sambungannya. Tersenyum jail. Tunggu saja sebentar lagi, akan ada sms masuk dari kekasihnya.

Drrtt… Nah, benarkan?

From: Jung Daehyunnie naekkoya

‘kenapa langsung di tutup sambungannya? Kau malu rupanya ya? Kkkk~ JUNG HAN JAE! JEONGMAL JEONGMAL JEONGMAL NEOMU NEOMU NEOMU SARANGHANDA~~!’  Han Jae tersenyum membacanya. Cish… bagaimana bisa ia mengganti nama margaku seenaknya? Daehyunni babo

Han Jae mengetik balasan untuk Daehyun kemudian memainkan benda kecil berbentuk lingkaran yang masih setia bertengger di jari manisnya. Hari ini, Han Jae akan kembali ke Korea. Ya, hari ini. Ia mempercepat kepulangannya.

“Han Jae, apa kau sudah siap? Mobil taksi pesananmu sudah menunggumu.”

“ya. Aku akan keluar, tunggu sebentar Bibi Lau.” Han Jae menatap kamarnya sekali lagi, kemudian menarik kopernya keluar. Di luar kamarnya sudah berdiri Bibi Lau dan teman dekatnya yang sudah menemaninya selama 3 tahun. Zelo.

“Jadi….kau benar-benar akan meninggalkan Jerman hari ini?” Tanya Zelo dengan tampang sedih. Han Jae hanya mengangguk kecil. “selamanya?” Tanya Zelo sekali lagi. “tentu saja tidak. Aku akan kembali ke tempat ini dan akan mengenalkan Daehyun padamu.” Han Jae memeluk tubuh Zelo.

“terimakasih sudah menjadi teman baikku Zelo.” Dirasakan baju Han Jae basah karena air mata Zelo. “hei…sudahlah. Tidak apa. Aku akan berkunjung kesini lain waktu.” Zelo menghapus air matanya cepat kemudian melepas pelukannya. “Benarkah?” Han Jae mengangguk. “tentu saja.”

“oh anakku…kenapa rasanya berat sekali melepasmu?” sekarang gentian Bibi Lau yang memeluk Han Jae. “kabari aku jika nanti kau sudah sampai di Korea. Dan ku harap kau mengundang kami saat kau menikah.”

“tentu saja aku akan mengundang bibi. Bibi, bisakah aku tinggal disini jika aku berkunjung kembali ke Jerman.”

“tentu. Tentu saja boleh nak. Pintu ini akan terbuka untukmu.”

“terimakasih.” Han Jae melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke luar. “aku pergi bibi, Zelo.”

“Hati-hati dan jaga kesehatanmu disana.” Han Jae mengangguk kemudian masuk ke dalam taksi.

@@@

Singapore, 11 Maret 2003

Han Jae melirik arlojinya. Jam 4 sore. Masih terlalu lama untuk sampai di Korea. Ditambah lagi, ia harus transit terlebih dahulu di Singapore, karena memang ia kehabisan tiket pesawat yang membawanya langsung ke Korea. Dan sekarang, ia masih harus menunggu pesawat terisi semua. Han Jae menghela nafasnya memakai headsetnya, kemudian memakai bantal leher yang dikirimkan Daehyun dua tahun yang lalu. Ia mengantuk. Semalam ia tidur terlalu larut untuk menyelesaikan tugas terakhirnya.

@@@

Han Jae membuka matanya, sinar matahari menembus korneanya. Terlalu silau. Dan hei, dimana dia? Dan bukankah seharusnya ini malam hari? Han Jae hendak mendudukkan tubuhnya, “aw…sshhh….” Ringisnya kesakitan. Tubuhnya terasa sangat remuk dan kepalanya sangat pening. Dengan perlahan ia menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon. Pohon? Han Jae melihat sekelilingnya. Hutan? Bagaimana bisa ia ada di hutan? Pandangannya beralih ke tubuhnya, luka lebam yang hampir memenuhi kaki dan tangannya. Astaga…sebenernya apa yang terjadi padanya. Han Jae mengingat apa yang terjadi padanya. Sedetik kemudian ia teringat! Ia adalah korban dari ratusan orang korban pesawat jatuh.

Tapi… kemana korban yang lainnya? Apakah mereka selamat semua? Atau hanya dirinya yang selamat? Dan kenapa hanya Han Jae yang berada disini. Dan…ASTAGA! Ia melupakan hal yang terpenting! Orang tuanya dan Daehyun! Bagaimana dengan mereka?! Apakah mereka tau dengan kecelakaan ini? Han Jae mencari handphonenya di saku jaketnya. Tidak ada. Diedarkan pandangannya, dan ia menemukan handphone dan mp3 playernya yang tergeletak beberapa meter darinya.

Dengan bersusah payah, Han Jae mengambil dua benda tersebut, sayangnya, Handphone miliknya sudah hancur dan tak berfungsi lagi. “ayolah…kumohon menyala….eomma…appa…daehyunnie…” Han Jae menangis. Sungguh, ia sangat ketakutan saat ini. Sendirian di hutan.

Setelah beberapa menit menangis, Han Jae menghapus air matanya kasar. Tidak. Ia tidak bisa seperti ini. Ia harus keluar dari hutan ini. Han Jae mencoba berdiri, kemudian menguatkan tubuhnya untuk berjalan. Mulutnya tak henti-hentinya berteriak meminta tolong, hatinya juga selalu berdoa agar tuhan membantunya, mengirimkan seseorang untuk menolongnya.

“Tolong~!” Han Jae terus berjalan. Matahari sudah mulai tenggelam, dan ia harus keluar dari hutan ini sebelum malam hari. “Tolong~!” kakinya sudah tidak kuat. Sudah empat jam lebih ia berjalan dan ia semakin kehilangan arah. BRUK. Tubuhnya ambruk. Air matanya mengalir dan sekarang tubuh mungil itu bergetar ketakutan. Ia butuh Daehyun. Ia butuh sosok laki-laki itu untuk menenangkannya.

“Tolong~!” Teriakannya melemah. Pandangannya mulai kabur. Han Jae hampir putus asa ketika ia mendengar suara teriakan seseorang. “HEI! KAU DIMANA?! HEI! GADIS YANG MEMINTA TOLONG! KAU DIMANA?!” Han Jae melihat seorang laki-laki di atas samar. Dikumpulkan kekuatannya, kemudian melambaikan tangannya. “AKU DISINI! DIBAWAHMU!” untungnya laki-laki itu mendengar teriakan Han Jae. Setelah mendapati keadaan Han Jae, laki-laki tersebut turun ke bawah dan menghampiri Han Jae. Kepala Han Jae semakin berat, pandangannya mulai kabur. “hei nona, kau tak apa?” laki-laki tersebut memegang bahu Han Jae agar tidak jatuh. “terimakasih…” kata Han Jae pelan sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.

Flashback on.

Seoul, 11 Maret 2003

Daehyun menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Menemui eomma-appanya yang sepertinya sedang mengobrol hangat di sana. Walaupun orang tua Daehyun sibuk bekerja, tapi Daehyun tidak pernah kekurangan kasih sayang dari mereka dan jangan salah, Daehyun berasal dari keluarga yang terbilang, yaaa kaya raya.

Disempatkan melihat pemandangan diluar melalui jendela, perlahan dahinya mengkerut. “ini aneh, kenapa cuacanya berubah mendung dengan sangat cepat? Sudahlah. Mungkin karena pemanasan global.” Daehyun meninggalkan tempatnya kemudian segera menghampiri eomma dan appanya. Daehyun duduk di karpet bawah. “Kau ini, kan masih ada sofa, kenapa duduk di bawah? Apa fungsinya ada sofa huh?” protes sang eomma. “sudahlah eomma, aku lebih suka dibawah.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari TV. “appa, hari ini ada pertandingan bola bukan?”

“ne. jagoanmu dengan jagoan appa yang bertanding.”

“benarkah? Well, let’s see…siapa yang akan menjadi juara pertama. Appa, mau taruhan?” Daehyun memandang appanya. “baik, siapa takut. Apa taruhannya?”

“jika jagoan appa menang, aku akan menjadi penerus perusahaan appa. Tapi jika ternyata jagoanku yang menang, appa harus membiarkanku menjadi seorang artis. Bagaimana?”

“em….well, not bad. Deal!” mereka berjabat tangan tanda mereka menyetujui taruhan yang di buat Daehyun.

“oh ya Dae, bagaimana hubunganmu dengan Han Jae?” Tanya sang eomma.

“aku sudah melamarnya.” Jawabnya santai.

“MWO?!” teriak kedua orangtuanya kaget. Daehyun menatap kedua orang tuanya bergantian. “apa aku lupa memberitahu kalian?”

“apa kau serius Dae?” Tanya sang eomma. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia. Daehyun mengangguk yakin.

“woah~ yeobo~ akhirnya uri Daehyunnie menikah!” Nyonya Jung memeluk suaminya bahagia. Daehyun hanya tertawa kecil dan kembali menatap layar televisi.

“permisi tuan besar, nyonya besar,” seorang pelayan menghampiri mereka bertiga. “ya ada apa bi?” Tanya Tuan Jung.

“ada telepon untuk tuan muda, ia bilang sangat penting.”

“ah begitu? Baiklah. Aku akan kesana. Terimakasih bi.” Pelayan tersebut membungkuk kemudian meninggalkan ruang tengah, disusul Daehyun yang menghampiri telepon rumah. Ini aneh, biasanya juga jika ada telepon melalui handphonenya. “yeoboseyo?”

“YAK JUNG DAEHYUN!” Daehyun menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Ia tau telepon dari siapa ini, Yoo Young Jae.

“Ya! Jae-ah, bisakah kau tidak berteriak?! Dan ada apa kau meneleponku melalu telepon rumah? Kenapa tidak melalu handphoneku”

“aku sudah menelepon handphonemu seratus kali bodoh dan kau—ah sudahlah! Tidak penting! YA! CEPAT GANTI CHANNEL TVMU! SEKARANG! HAN JAE….” Deg deg deg. Kenapa jantungnya bedegub dengan cepat saat mendengan Young Jae menyebut nama Han Jae dan perasaan ini….. dengan segera Daehyun berlari ke ruang keluarga, mengambil remote dari tangan sang appa dan mengganti channelnya. Mengabaikan celotehan appanya yang mengatakan dirinya tidak sopan. Melupakan bahwa Young Jae masih berbicara dengannya.

Pikirannya terpenuhi dengan Han Jae. Han Jae dan Han Jae. Matanya masih menatap fokus ke layar TV.

…..Jatuhnya pesawat BE2298 tujuan Incheon Korea selatan terjadi pada pukul 6 sore. Pesawat ini membawa penumpang dari Jerman yang transit dari Singapore. Dilaporkan seluruh penumpang tewas. Dan inilah beberapa warga Korea selatan yang dinyatakan tewas, Kang Jan Bi, Lee Hwang Ji……. Layar televisi tengah menampilkan profile warga Korea yang tewas secara bergantian.

Deg deg deg deg. Kumohon tuhan Han Jae baik-baik saja….

…. Dan Kim Han Jae.

Deg.

Satu nama itu seperti guntur untuknya. Telepon tersebut jatuh sudah di tangannya bersamaan dengan tubuhnya yang tersungkur di lantai. Bahkan tidak ada kekuatan untuknya berdiri. Pandangannya kosong. Hatinya hancur sudah. Rasanya….ingin mati saja saat ini.

….Korban akan dipulangkan ke Negara asal….. “PEMBOHONGGGG!” PRAK. Daehyun melempar telepon kearah Televisi mewah di depannya. “bagaimana bisa ia menyebutkan nama korban seperti tidak ada beban? Hah!” tawanya miris. “KAU PIKIR KIM HAN JAE HANYA SATU ORANG HAH?!” teriaknya sekali lagi. Ia tidak tau ia marah pada siapa. Tidak mungkin. Tidak mungkin gadis itu adalah Kim Han Jae-nya. Kim Han Jae-nya pulang esok. Tidak mungkin. Ya, itu pasti Kim Han Jae dari ribuan Kim Han Jae lainnya. Bukan Kim Han Jae milik Jung Daehyun. Ya, orang itu hanya mirip dengan Han Jae-nya.

“dae….tenanglah…” Nyonya Jung menghampiri anaknya. Mendekap sang anak dalam pelukannya. “kenapa eomma memelukku? Aku tidak apa-apa. Aku yakin itu bukan Han Jae-ku eomma, iya kan?” air matanya terus mengalir deras. Sang eomma juga ikut terisak.

“kenapa eomma menangis? Eomma tak percaya denganku? Dia bukan Kim Han Jae-ku eomma…dia…bu….ARGHHH!!!” Daehyun melepas dirinya dari pelukan sang eomma, berlari keluar rumah. Hujan. Kakinya terus membawanya. Entah kemana. Mengabaikan tatapan sinis orang-orang yang ia tubruk.

“Nado…. Nado saranghae Jung Daehyun.” Perkataan Han Jae beberapa jam yang lalu terngiang di telinganya. BRUK. Daehyun terjatuh. “ARGHHHHHH!!!!” teriaknya frustasi.

“Kenapa seperti ini tuhan? aku selalu mengingatmu, menjalankan nasihat yang tertulis di kitab sucimu dan menaatimu. Aku juga menjaga kedua orang tuaku. Dan aku tak pernah meminta banyak darimu. Hanya dua permintaanku, kau menjaga keluargaku dan memberikan salah satu bidadari pilahanmu padaku dan membantuku menjaganya.”

“apa salahku tuhan? Sehingga kau bawa kembali bidadarimu dan tak akan pernah mengembalikkannya padaku. kau membawanya pergi tanpa membiarkan aku melihat bidadariku untuk yang terakhir kalinya. Kenapa tak sekalian kau membawaku pergi saja….” Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir berbarengan dengan derasnya hujan.

@@@

Normal time.

Taiwan, 15 Maret 2003

Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. “daehyun-ah…” gumam Han Jae pelan. Laki-laki yang berada di sampingnya tersenyum lebar. Ia sadar! Pikir Jong Up “hei, hei! Bangunlah!” Jong Up mengelus tangan Han Jae pelan. “EOMMA! EOMMA!!! KEMARILAH!” teriak Jong Up memanggil sang eomma yang berada di dapur. Dengan sedikit marah, sang eomma memasuki kamar dimana Jong Up tengah menjaga Han Jae. “ada apa Jongie? Kau berisik saja.”

“eomma! Gadis ini bangun!” Jong Up menunjuk Han Jae, membuat sang eomma memembulatkan matanya. “benarkah?!”

Han Jae membuka matanya, mencoba mebiasakan matanya dengan sinar matahari. Ini bukan di kamarnya. Dimana ia? Pikir Han Jae. “kau sudah sadar nak?” Tanya sang eomma, Han Jae mengangguk pelan. “hei, hati-hati. Sini biar ku bantu.” Jong Up membantu Han Jae untuk bersender di kepala kasur.

“Jongie, eomma siapkan susu dan sarapan untuk nona ini. Kau jagalah dia.” Jong Up mengangguk, kemudian sang eomma pergi meninggalkannya.

“aku…dimana?” Jong Up tersenyum. “kau di Taiwan. Lebih tepatnya di rumahku.” Jong Up tersenyum sambil memamerkan gigi kelincinya. Ah, ia ingat. Setelah kejadian pesawat terbang itu, ia terdampar di hutan dan mungkinkah….laki-laki ini yang menolongnya?”

“kau kah yang menolongku di hutan?” Jong Up mengangguk kecil. “gomawo…” Han Jae tersenyum. Senyum pertama untuk Jong Up. Err….kenapa terlihat manis? Hei bangunlah Moon Jong Up!

“tidak apa. Aku senang membantu orang.” Jong Up kembali menampilkan senyum kelincinya. “ah, aku Moon Jong Up. Kau bisa panggil aku Jong Up. Kau Kim Han Jae bukan?” Han Jae mengangguk, sedikit mengernyitkan dahinya.

“bagaimana kau tau namaku?”

“berita di televisi. Namamu terdaftar sebagai orang yang sudah meninggal. Aku ingin menghubungi orang tuamu, tapi aku tidak mengetahui nomer telepon keluargamu.” Han Jae terdiam. Benar, orang tuanya pasti mengetahui ia sudah meninggal dan Daehyun….

“maaf….” Han Jae menoleh menatap Jong Up. “eh?” tanyanya bingung. “Maaf, jadi membuatmu sedih karena perkataanku tadi.” Han Jae dapat melihat pancaran menyesal dari mata laki-laki di sampingnya.

“gwenchana…aku sudah memperkirakannya kok. Ngomong-ngomong Jong Up-ssi, sudah berapa lama aku disini?”

“sepertinya kau terdampar di Hutan selama 2 hari dan selama 3 hari kau tidak sadarkan diri. Ah ya, dokter bilang kau tidak apa-apa. Hanya luka kecil dan patah tulang belakang. Tidak terlalu serius, mungkin tiga sampai empat bulan akan sembuh dan bersyukurlah, kau terselamatkan karena bantal lehermu.”

“gomawo…” Han Jae tidak tau harus mengatakan apa, ia hanya bisa mengucapkan terimakasih saat ini.

“eiii tidak usah berlebihan. ah, mungkin kau ingin menghubungi mereka bahwa kau tidak apa-apa?” Jong Up mengambil Handphone di saku celananya kemudian memberikannya pada Han Jae. “teleponlah.” Han Jae menatap Jong Up dan Handphone di depannya bergantian. Beberapa detik kemudian Han Jae tersenyum kemudian mengembalikkan benda mungil itu pada Jong Up.

“tidak usah. Lain kali akan aku kabari mereka. Saat ini aku belum siap.” Ya…ini bukan saatnya.

@@@

Taiwan, 23 Juni 2003

“ahjumma, biarku bantu.” Han Jae menyusul Nyonya Moon di dapur. “tidak usah. Kau masih belum sembuh total. Istirahatlah.”

“aku tidak apa-apa ahjumma. Sudah tiga bulan lebih aku hanya merepotkan ahjumma, kali ini biar ku bantu ne?” Moon Ahjumma menghela nafasnya. Mau di tolak berapa kali juga, Han Jae tetap akan bersikeras melakukannya. “baiklah. Kau boleh membawa makanan itu ke meja makan. Kau hanya boleh membantu itu, sisanya tidak.” “baiklah~”

Han Jae mengambil beberapa piring kosong untuk di pindahkan ke meja makan. Ia membawanya perlahan-lahan. Jujur saja tangannya masih sedikit nyeri, tapi ia tak mau terus-terusan merepotkan Moon family. “aaahhh,” PRAK. Sempurna. Han Jae memecahkan piring di tangannya. “tck, bodohnya…” Han Jae hendak berjongkok untuk mengambili pecahan piring, ketika sebuah tangan menariknya menjauh. “jangan dibersihkan. Biar aku saja.” Larang Jong Up, tapi Han Jae melepaskan genggaman tangan Jong Up.

“tidak Jongie, ini kesalahanku. Jadi, biarkan aku melakukannya.” Han Jae memunguti pecahan piring satu persatu. “aw!” teriaknya ketika tak sengaja mengoreskan tangannya di pecahan piring yang sedang di bersihkannya. Darah segar keluar dari jari telunjuknya. “tck! Dasar ceroboh!” Jong Up berjongkok di samping Han Jae, menarik jari telunjuk Han Jae, kemudian menghisap darah yang keluar hingga berhenti. “Sudah ku katakan jangan kau lakukan, kenapa kau keras kepala sekali sih?!” omel Jong Up sambil terus menghisap darah yang keluar dari jari Han Jae.

Han Jae terdiam menatap Jong Up. Kenapa….ia mirip sekali dengan Daehyun…. “ah Jongie, aku tidak apa-apa.” Han Jae menarik jari telunjuknya kemudian pergi meninggalkan Jong Up.

@@@

Han Jae duduk di bukit belakang tempat kediaman Moon. Sesekali tangannya melempar batu ke danau yang berada di depannya. Ia merindukan Seoul, orang tua dan kedua kakaknya, dan terlebih lagi laki-laki itu…Jung Daehyun….ia merindukan Daehyun-nya. Haaah…bahkan seharusnya saat ini ia sudah menjadi tungannnya Daehyun.

Han Jae mengambil Handphonenya. Ya, setelah kejadian itu, Jong Up membenarkan Handphone milik Han Jae. Dilihatnya layar Handphonenya. Foto dirinya dengan Daehyun. Harapan kecil itu masih ada…meskipun hanya 0,0001% bisa terjadi. Ia hanya berharap Daehyun meneleponnya dan mengatakan bahwa ia masih menunggunya kembali. Hah. Gila. Kau sudah gila Kim Han Jae. Mana ada seseorang yang masih menunggu orang yang sudah ‘meninggal’ kembali. Kau benar-benar gila. Rutuknya dalam hati.

Tiba-tiba seseorang melampirkan jaket ke bahu Han Jae. Han Jae mendongak dan mendapati Jong Up yang tersenyum manis padanya. Jong Up duduk di samping Han Jae. “maaf…”

“Eh?” Han Jae menatap Jong Up bingung. Sungguh, Han Jae tidak pernah tau kesalahan Jong Up saat dia mengatakan kata ‘maaf’

“maaf…karena aku tadi berkata kasar padamu.” Jong Up menunduk. Han Jae tersenyum kemudian menepuk bahu Jong Up lembut, membuat Jong Up menatap Han Jae. “aku tidak marah karenamu. Aku hanya butuh udara segar. Dan Jong Up-ssi, berhentilah mengatakan kata maaf. Sejujurnya aku tidak pernah mengerti apa kesalahanmu padaku.” Han Jae tersenyum. Senyuman favorit Jong Up.

Tubuh Jong Up menegang. Bagaimana tidak? Secara tiba-tiba Han Jae menyenderkan kepalanya di bahu Jong Up “jangan bergerak Jongie dan biarkan aku seperti ini. Aku….merindukan orang tuaku….” Jong Up dapat merasakan air mata jatuh di celananya. Han Jae menangis, dengan perlahan Jong Up memeluk Han Jae, dan saat itulah tangis Han Jae pecah.

Aku tau Kim Han Jae….kau tidak sepenuhnya merindukan orang tuamu. Tapi masih ada satu orang yang begitu kau rindukan. Jung Daehyun….ya, laki-laki itu. Kau sangat merindukan laki-laki itu bukan?

@@@

Seoul, 20 September 2003

Daehyun terduduk di ruang kerjanya. Sekarang ia adalah penerus sang appa untuk melanjutkan perusahaan Cord yang terbilang sukses itu. Appanya memenangkan taruhannya waktu itu, yang membuatnya mau tak mau harus menepati perjanjian yang sudah disepakati mereka berdua.

Di putarnya kursi nyamannya menghadap keluar jendela. Pandangannya menatap lurus jauh ke depan. Diambilnya benda mungil yang sekarang sangat penting baginya. Harapan gilanya menghantuinya, harapan dimana Han Jae akan menghubunginya suatu hari nanti. Gila bukan? Han Jae sudah meninggal, mana mungkin ia akan menghubunginya?

Dibacanya sms terakhir dari Han Jae yang masuk ke dalam inboxnya. Meskipun sudah hafal di luar kepala karena terlalu sering membacanya, mencernanya dan pada akhirnya ia mengerti maksudnya. Diletakkan kepalanya di kursi, memejamkan matanya sejenak. Aku sudah mengerti Kim Han Jae….inilah semua yang kau maksud. Kau pergi meninggalkanku, kemudian kau menyuruhku untuk pergi melupakanmu dan kenangan yang sudah hampir 7 tahun kita buat bersama. Dan tanpa ku sadari kau menyuruhku untuk menyiapkan pengganti dirimu.

BRAK! Daehyun membuka matanya. Ia tau siapa pelakunya. Anak sialan itu benar-benar….

“YAK JUNG DAEHYUN!” Young Jae memasuki ruangan Daehyun dengan rusuh. Daehyun memutar kursinya, menatap Young Jae tajam.

“YOO YOUNG JAE! SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN KETUKLAH SEBELUM KAU MASUK KE RUANGANKU! DAN BERHENTILAH MERUSAK PINTU RUANGANKU! KAU LUPA, KAU SUDAH MENGHANCURKAN PINTUKU TIGA KALI!?” teriak Daehyun. Young Jae hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum tak bersalah.

“Ada apa kau kesini? Kalau tidak penting, aku akan menendangmu dari sini.”

“wow, wow, santailah Presdir Jung. Kau membuatku takut.”

“sudah cepat katakan!”

“A—“

“Ah ya, aku tidak menerima semua gadis yang kau jodohkan padaku.” potong Daehyun cepat. “Hei! Lalu fungsi aku datang ke kantormu selain mengenalkan gadis-gadis cantik padamu, apa lagi?!”

“entah.” Jawab Daehyun tak peduli, kemudian membuka laporan yang diberikan sekretaris Choi padanya beberapa menit yang lalu. Young Jae menghampiri meja Daehyun kemudian duduk di kursi depan Daehyun. “hei, kau harus tau wanita yang satu ini. Percayalah padaku, kau akan menyukainya.”

“aku tidak suka.” Katanya tanpa mengalihkan sedikit pandangannya.

“YAK! Bahkan kau belum melihat fotonya dan mengetahui kepribadiannya.”

“….”

“Hah….aku heran kenapa aku memiliki teman sepertimu! Ya! Lupakan Han Jae! Lupakan bidadarimu itu! Ia adalah satu dari ribuan bidadari yang Tuhan kirimkan padamu! Dan Dae, bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa kau harus mencari pengganti dirinya.”

“Han Jae tidak mengatakannya.” Daehyun berhenti melakukan aktifitasnya, kemudian menutup laporan yang belum ia selesai koreksi.

“yayaya. Han Jae memang tidak mengatakannya secara langsung. Tapi kau juga mengerti dari sms terakhir yang selalu kau baca setiap detiknya.”

“….”

“hei, sampai kapan kau akan terpuruk seperti ini? Kau tak ingin membahagiakan orang tuamu yang sudah ingin sekali memiliki menantu cantik? Dan ingat, mau sampai kapan kau mengulur pernikahanmu? Sampai orang tuamu meninggal baru kau menikah? Selama waktu mereka masih ada, kenapa tidak kau coba?”

“aku….masih tidak bisa menerima wanita lain.”

“kau bukannya tidak bisa menerima wanita lain. Kau hanya takut wanita lain memasuki ruang hatimu, kemudian menggeser posisi Han Jae di hatimu. Lupakan janji bodoh yang kau janjikan pada Han Jae, dan sekali lagi, bukankah Han Jae mengatakan bahwa kau tak perlu berjanji lagi. Kau terlalu menutup hatimu Dae.”

“….”

“Dae, aku yakin Han Jae sedih melihatmu seperti ini. Ia juga ingin kau bahagia. Jika kau tak mau melakukannya demi orang tuamu, demi Han Jae kau tak mau?”

“….”

“haah sudahlah lupakan. Susah berbicara dengan anak bodoh sepertimu.” Young Jae berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kerja Daehyun.

“Jae,” Young Jae menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya menatap Daehyun yang menatap kosong ke lantai. “beri aku kesempatan sekali lagi.” Young Jae tersenyum.

“Baiklah. Besok aku akan kembali dan memberikan informasi gadis terbaik dari semua gadis baik. Na kanda~” Young Jae menutup pintu ruangan Daehyun. Daehyun mengusap wajahnya kasar. Semoga ini yang terbaik tuhan….

@@@

Satu tahun kemudian….

Taiwan, 2 Juni 2004

Han Jae menghitung uang tabungannya dari hasil kerjanya sebagai penyanyi di café setiap hari. Senyumnya merekah ketika mengetahui bahwa tabungannya cukup untuk kembali ke Korea. “sepertinya sedang senang sekali.” Jong Up memasuki kamar Han Jae. “Ya! Sudah ku bilang ketuk pintu dulu sebelum masuk! Aku ini perempuan, bagaimana jika aku sedang berpakaian saat kau masuk ke kamarku?”

Jong Up terkekeh melihat ekspresi Han Jae. Diacaknya rambut Han Jae dengan lembut. “buktinya kau sedang tidak berpakaiankan?” “Ya! Moon Jong Up!” Jong Up kembali terkekeh. Perlahan, bibir Han Jae ikut tertarik.

“wah~ ternyata uang tabunganmu banyak sekali ya~ mau kau apakan uang sebanyak ini?” Tanya Jong Up melihat Han Jae memegang lembaran uang. “ah aku tau! Ingin mentraktirku kan?” Tanyanya percaya diri.

“cih. Kau terlalu percaya diri Moon Jong Up.” Jong Up mengernyitkan dahinya. “geurom…untuk apa uang sebanyak ini?”

“Ya! Mendekatlah.” Han Jae meminta Jong Up untuk mendekatkan kepalanya. “uang ini aku gunakan untuk kembali ke Korea.” Bisik Han Jae ditelinga Jong Up.

Deg.

Han Jae tersenyum senang setelah memberisikkan rencananya. Tidak menyadari perubahan wajah Jong Up. “ohh…jin-jinjja?” Tanya Jong Up sedikit memaksa untuk menampilkan wajah surprise yang pada kenyataannya terlihat sangat gagal. Bodoh. Kau melupakan bahwa ia masih memiliki keluarga disana Moon Jong Up. Bahkan pacarnya, juga tinggal disana.

TAK. “aw,” ringis Jong Up sambil mengusap dahinya yang menjadi percobaan mulus sentilan kencang dari Han Jae. “YAK! KIM HAN JAE!” teriak Jong Up. Han Jae hanya tertawa kecil. “mukamu jelek Jongie saat memasang wajah seperti itu. Jangan memasang tampang sedihmu. Aku akan mentraktirmu kok.” Jong Up menghela nafas. Masih belum peka juga kau Kim Han Jae?

“kajja!” Han Jae menarik tangan Jong Up untuk keluar dari kamarnya, “ahjumma, aku culik Jong Up sebentar ya.” Teriaknya masih sambil membawa Jong Up keluar dari rumah.

“ne~ hati-hati~”

@@@

Jong Up menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak bisa tidur, padahal ini sudah larut malam. Astaga…bagaimana ia bisa tidur kalau pikirannya tersita oleh Han Jae. Han Jae akan meninggalkannya dan kembali bertemu dengan pacarnya yang seharusnya mungkin mereka sudah menikah saat ini. Oh ayolah Moon Jong Up! Kau gila?! Ada apa memangnya jika Han Jae kembali pada Jung Daehyun?

“aish…” Jong Up mengacak rambutnya kesal, kemudian bangkit dari posisi tidurannya. Sepertinya udara luar akan membuatnya lebih nyaman. Kakinya membawanya menuju bukit belakang rumahnya. Tempat favoritnya jika sedang sedih. Disandarkan tubuhnya di pohon besar. Merasakan hempasan angin malam. Jong Up memejamkan matanya sejenak, merasakan ketenangan yang begitu nyaman, sampai suara tangisan seorang gadis membuat ketenangan yang baru ia dapat menghilang. Jong Up mempertajamkan telinganya dan mengikuti sumber suara. Suaranya berasal dari danau. Setelah sampai di dekat danau, ia dapat melihat seorang gadis tengah memeluk lututnya sambil menangis. Dengan bantuan penerangan lampu yang mengitari danau, Jong Up dapat melihat siapa gadis itu.

“Han Jae….?”

Flashback on.

Han Jae keluar dari kamarnya. Ia tidak bisa tidur malam ini, terlalu bersemangat menunggu hari esok. Setelah tadi membicarakannya dengan tuan dan nyonya Moon tentang keberangkatannya ke Korea besok, meskipun mereka terlihat bersedih, tapi mereka harus menyetujuinya. Karena memang ini bukanlah keluarga Han Jae yang sebenarnya.

Han Jae menyalakan TV yang berada di ruang tengah. Sudah sangat lama ia tidak menonton TV, membuatnya tertinggal berita dari luar negeri. Termasuk negeri tempat lahirnya. Han Jae mamasukkan keripik singkong yang dibelinya saat pergi dengan Jong Up tadi sore ke mulutnya.

……Pewaris tunggal dari perusahaan Cord Korea selatan—Jung Daehyun, akan segera melangsungkan pernikahan….

Deg.

Han Jae menatap layar TV tak percaya. Apa yang dikatakan penyiar barusan? Dae….menikah….? Han Jae memegang dada sebelah kirinya. Kenapa rasanya…sakit sekali?

Jung Daehyun….inikah akhir dari semuanya? Benar-benar bodoh! Jung Daehyun bodoh! Han Jae mematikan TVnya kemudian berlari keluar rumah. Air matanya menderas. Daehyun pabo! Aku benci Jung Daehyun!

Han Jae terduduk lemas di depan danau. Air matanya masih menderas. Tuhan…inikah hukuman darimu? Inikah hukumanmu karena aku tidak memberitahu mereka bahwa aku masih hidup?

“Kim Han Jae….saranghae….”

“…..”

“Jeongmal Saranghae….”

Entah bagaimana, suara daehyun setahun yang lalu terngiang di telinganya. Suara lembut yang mengatakan bahwa ia mencintai Kim Han Jae. “Jung Daehyun bodoh! Aku benar-benar membenci Jung Daehyun bodoh!”

Normal Time.

Han Jae tersentak kaget saat dirasakan seseorang memeluknya dari belakang, dengan cepat Han Jae menghapus air matanya. “kenapa berhenti? Menangislah sesukamu. Luapkan amarahmu. Aku disini. Bersiap menjadi pelampiasanmu.” Jong Up melepas pelukannya kemudian memutar tubuh Han Jae untuk berhadapan dengannya. Han Jae menatap Jong Up kemudian berhambur ke pelukannya. Tangisnya kembali meledak. “Tuhan sedang menghukumku Jongie…Tuhan sudah muak denganku yang mungkin sudah terus-terusan menyakiti hatinya…”

“….”

“ia….akan segera menikah dengan wanita lain Jongie…bukan denganku….” Jong Up mengelus rambut Han Jae lembut. Mendekap Han Jae semakin erat.

@@@

Jong Up turun ke bawah. Sedikit bingung kenapa banyak koper di ruang tengah. “eomma…” Jong Up menghampiri eommanya di dapur. “ada apa jongie?”

“apa eomma akan berlibur dengan abeoji? Kenapa banyak koper di ruang tengah?” nyonya Moon hanya tersenyum kecut. “itu koper Jae. Hari ini dia akan kembali ke Korea.”

Deg.

“kem-kembali? Ha-hari ini?” Tanya Jong Up memastikan. “eum.” Nyonya Moon mengangguk pelan. Jong Up segera berlari, membuka kamar Han Jae, dan benar. Kamar Han Jae sudah kosong! Dan… kemana gadis itu? “KIM HAN JAE!” teriak Jong up.

“Jongie, jangan berteriak. Han Jae sedang keluar sebentar.” Jong Up segera berlari keluar rumah. “KIM HAN JAE!” Jong Up terus mengelilingi rumah, ia baru ingat harus kemana untuk mencari Han Jae. Dan benar dugaannya. Gadis itu tengah berdiri di dekat danau.

“KIM HAN JAE!” Han Jae berbalik dan sedikit kaget, karena tiba-tiba Jong Up memeluknya. Nafasnya tersenggal-senggal. “kau kenapa Jongie?”

“bodoh. Benar-benar wanita bodoh! Aku membencimu, Kim Han Jae.” Lagi-lagi Han Jae tersentak kaget. “bagaimana bisa….bagaimana bisa kau pergi hari ini tanpa memberitahuku…” Han Jae merasakan bajunya basaha. Jong Up….menangis….? “Jongie…” Han Jae melepas pelukan Jong Up tapi Jong Up semakin mempererat pelukannya.

“diamlah….setelah ini aku tidak akan memelukmu lagi. Kumohon….” Han Jae mengangguk kemudian memeluk Jong Up. “Saranghae, Kim Han Jae.” Han Jae membulatkan matanya. Bagaimana….bagaimana bisa kata yang ingin sekali ia dengar keluar dari mulut orang yang tidak ia harapkan?

“J-Jongie…a-aku….”

“ssttt…diamlah. Aku tidak memintamu menjawab, karena aku sudah tau apa jawabanmu. Kau tak bisa menerimaku. Tentu saja aku tau. Saat ini, biarlah kau yang menjadi pendengar.”

“aku menyukaimu, ah tidak. Aku mencintaimu Kim Han Jae. Sejak pertama kali kau terkulai lemas dalam pelukanku. Awalnya ku kira debaran jantung ini hanya karena berlari mencari sumber suara yang ternyata milikmu. Tapi semakin hari, jantung ini berdebar sama seperti aku menggendongmu, sampai akhirnya aku yakin, aku mencintaimu. Tapi sayangnya aku sudah sangat telat. Kau…sudah menutup hatimu untuk dirinya. Menutupnya sangat rapat, sampai tak ada celah untuk aku masuk ke dalamnya.”

“dan dengarkan ini baik-baik, jika ia tak lagi menerimamu, kembalilah kesini, dan saat itu, aku akan membuatmu benar-benar mencintaiku, seperti layaknya kau mencintainya.” Jong Up melepas pelukannya. Han Jae menatapnya. “Jongie….” Jong Up tersenyum kemudian mencium kening Han Jae cukup lama.

“ayo, kau akan ketinggalan pesawatmu nanti.” Jong Up menarik tangan Han Jae, meninggalkan bukit ini. Han Jae menatap bahu Jong Up. Terimakasih Moon Jong Up-ssi….

@@@

“EOMMAAAA!!!!” Han Jae menghambur ke pelukan sang eomma. Sungguh, ia merindukan sang eomma. “Eomma, kenapa kurus sekali?” Han Jae semakin mengeratkan pelukannya. Air matanya mengalir dengan derasnya.

“eomma, tidak merindukanku?” Han Jae melepas pelukannya. Kedua bola mata damai itu memandangnya tak percaya. “Ha-Han Jae….” Han Jae mengangguk. “iya ini aku, anakmu eomma. Kim Han Jae.”

“ASTAGA YEOBO!!!! YEOBO!!! KEMARILAH! APA KAU BENAR ANAKKU KIM HAN JAE?! APA INI MIMPI?” Nyonya Kim meletakkan kedua tangannya di pipi sang anak. Han Jae menggeleng pelan. “aniyo eomma. Ini aku, Kim Han Jae. Anak bungsu eomma.” Nyonya Kim memeluk anaknya. “ternyata firasat eomma benar, kau masih hidup nak. YEOBO!!!! KEMARILAH!!!” Nyonya Kim memanggil suaminya. Beberapa menit kemudian Tuan Kim sudah menghampiri Nyonya Kim.

“kau ini berisik sekali, ada a—“ belum sempat Tuan Kim menyelesaikan kalimatnya, Han Jae sudah memeluk tubuh sang appa. “APPA~ INI AKU! KIM HAN JAE-MU!” butuh lima menit Tuan Kim mencerna kata-kata gadis yang sedang memeluknya. “k-kau…” Tuan Kim melepas paksa pelukan Han Jae. “k-kau…BENARKAH KAU ANAKKU KIM HAN JAE?! BENARKAH KAU SI BUNGSU KIM?!” Han Jae mengangguk cepat. “YA TUHAN! TERIMAKASIH, TERNYATA ANAKKU MASIH HIDUP!” Tuan Kim memeluk Han Jae erat.

“ayo masuk nak, kau nanti kedinginan.” Tuan dan Nyonya Kim menarik tangan Han Jae untuk masuk. “eomma akan membuatkan susu hangat.” Han Jae menarik tangan sang eomma, dan menyuruhnya kembali duduk. “tidak usah eomma…aku masih merindukan eomma dan appa….”

“aigoo~ anakku~ terimakasih tuhan, anakku Jae masih selamat. Eomma selalu berfikir bahwa itu bukan kau sayang.”

“eomma!!! Kami lapar….” Yong Guk dan Himchan turun kemudian menuju ruang tengah. “OPPA!!!!” Han Jae berteriak histeris ketika kedua kakaknya berada di depannya. Sama seperti Tuan dan Nyonya Kim, butuh waktu lama untuk mencerna kehadiran Han Jae. Han Jae menubruk tubuh kedua oppanya. “Oppa, ini aku, adik bungsu kalian, Han Jae.”

“Ha…Han….Jaeee…?” Tanya Yong Guk dan Himchan berdua tak percaya. Han Jae melepaskan pelukannya, menatap kedua kakaknya bergantian. “HAN JAE-KU!” Himchan yang otaknya lebih cepat mencerna dari pada Yong Guk, memeluk tubuh Han Jae erat. “KAU MASIH HIDUP?! TUHAN! JAE-KU MASIH HIDUP!” “Channie oppa….”

“Ya! Lepaskan Jae, aku juga ingin memeluknya bodoh!” Yong Guk memisahkan Himchan dan Han Jae. “Gukkie oppa!” “AIGOO URI AEGI!!!!! SYUKURLAH KAU SELAMAT!!!”

“aku merindukan kalian….sampai rasanya ingin mati…” Han Jae menangis di pelukan Yong Guk. Yong Guk mengelus rambut adik bungsunya lembut. Himchan kemudian memeluk Yong Guk dan Han Jae. “kami juga merindukan Jae kami….” Tuan dan Nyonya Kim hanya berpelukan di sofa sambil memerhatikan ketiga anaknya.

Ketiga bersaudara itu melepas pelukannya. “nah, kau harus menceritakan pada kami dari mulai terjadinya kecelakaan.” Han Jae mengangguk. Keluarga Kim berkumpul di ruang tengah, siap mendengarkan cerita si bungsu Jae.

@@@

Han Jae berkeliling kamarnya, tidak ada yang berubah. Bahkan seprai dan posisi bantal sejak pertama kali ia berangkat untuk ke Jerman tidak berubah. “oppa, kenapa tidak ada yang berubah sama sekali?”

“eomma melarang aku dan Yong Guk untuk menyentuh barang-barangmu. Apa lagi meniduri tempat tidurmu. Alasannya karena selalu mengingatmu.” Han Jae hanya mengangguk. Ia berjalan ke meja belajar. Senyum yang sedari tadi merekah, perlahan memudar. Kertas berbentuk persegi panjang bertengger manis di meja belajarnya. Himchan menghampiri Han Jae. “anak bodoh itu mengundangmu ke acara pernikahannya. Lihat, ia mengundangmu, bukan mengundang kami.” Han Jae mengambil kertas berbentuk persegi panjang tersebut, kemudian membukanya. Dan dengan jelas tertulis nama Jung Daehyun dan….. Woo Sang Jin.

Deg.

Jadi….gadis yang akan menikah dengan Daehyun….adalah…..Sang Jin? Sahabatnya semasa sekolah dasar sekaligus tetangganya? Han Jae tersenyum miris. “kenapa….dunia sempit sekali ya oppa. Bahkan ia menikah dengan teman masa kecilku.” Himchan menarik adik bungsunya ke dalam dekapannya.

“oppa mengerti perasaanmu. Saat seperti ini, bukankah hal yang paling menyesakkan? Bahkan kau seperti melayang, karena terlalu menyesakkannya. Tidak memiliki kekuatan untuk melangkah. Oppa mengerti….tapi jalan satu-satunya yang terbaik saat ini adalah, merelakan mereka. Bukankah kedua orang itu adalah orang yang kau sayangi?” Han Jae mengangguk. Perkataan oppanya benar, setidaknya jalan satu-satunya adalah merelakan mereka berbahagia. Himchan menghapus air mata adik satu-satunya yang ia miliki.

@@@

Daehyun membuang dirinya di sofa. Hari ini rencananya ia dan Sang Jin akan mengunjungi tempat untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua. Handphonenya bergetar. Haah…paling juga Sang Jin yang merengek minta di jemput. Dengan berat hati Daehyun mengambil Handphone di saku blazzernya. Membuka satu pesan yang masuk di handphonenya.

From: Nae Cheonsa Jae

‘Daehyunnie oppa, ini aku, Kim Han Jae. Bisakah kita bertemu? Aku di Café terakhir yang kita kunjungi.’

Daehyun bangkit dari tidurannya. Mencerna pesan masuk di depannya, setelah otaknya mencerna dengan baik, Daehyun segera melompat dari kasurnya dan berlari ke luar rumah. Bahkan ia melupakan bahwa keluarga Jung memiliki segudang mobil karena saking semangatnya ia bertemu malaikatnya yang ternyata masih hidup. Tuhan….terimakasih….

Daehyun membuka pintu café dengan sedikit kasar, diedarkan pandangannya ke setiap sudut café tersebut, sampai matanya tertuju pada satu titik yang tengah memainkan jarinya di meja. Sosok yang begitu ia rindukan. “Kim…Han…Jae….” Han Jae mendongak dan berdiri. Ia tidak menyangka bahwa kehadirannya secepat ini. Daehyun segera memeluk Han Jae erat. Membuat Han Jae tersentak kaget. Pelukan yang ia rindukan selama empat tahun ini. Wangi tubuh Daehyun yang nyaris ia lupakan. “kau selamat…aku sudah yakin kau selamat…” Han Jae ingin sekali memeluk tubuh laki-laki di depannya, tapi….ia ingat bahwa Daehyun bukan lagi miliknya.

“oppa… kau bisa melepasku sekarang.” Daehyun melepas pelukannya. “hehe…maaf…aku lupa.” Daehyun tersenyum canggung. “gwenchana. Lupakan saja. Silahkan duduk oppa.” Han Jae kembali duduk, di susul Daehyun yang duduk di depannya. Canggung.

“chukhae…” Han Jae tersenyum lembut. Lembut? Apakah terlihat lembut? Oh ayolah…senyum itu, hanya senyum keterpaksaan darinya. “untuk?”

“pernikahanmu.”

“Jae, aku….”

“kau tak perlu menjelaskan apapun padaku oppa. Masalah janjimu padaku, lupakanlah. Bukankah aku juga sudah menyuruhmu untuk melepasku dan pergi mencari penggantiku?”

“….”

“ngomong-ngomong dunia sempit sekali ya. Tapi…syukurlah, aku lega kau menikah dengan wanita yang sudah aku kenal dan sudah ku pastikan oppa tidak akan tersakiti karenanya….”

“….”

“tidak seperti aku yang menyakitimu.”

Hening. Han Jae meneguk habis cappucinonya. Kemudian beranjak pergi.

“Jae,” Langkah Han Jae terhenti. Diliriknya tangan kekar itu menggenggam lengannya. “geokjeongma….aku akan menghadiri pernikahan kalian besok.” Han Jae melepas tangan Daehyun pelan, kemudian berjalan meninggalkan Daehyun tanpa menengok sedikitpun.

@@@

“Aku pulang.” Han Jae memakai sandal rumahnya. “Jae-ah!” seorang laki-laki menghampirinya. Han Jae membulatkan matanya tak percaya. “zel-zelo….?” Tanpa aba-aba, Zelo langsung memeluk Han Jae. “syukurlah kau selamat. Aku baru mendapat kabar dari Bibi Lau bahwa kau selamat. Jadi, tadi pagi aku langsung berangkat ke rumahmu.”

Zelo melepaskan pelukannya. “kau tidak apa?” Han Jae mengangguk. “tidak. Aku baik-baik saja. Menginaplah di sini zelo-ya~ aku merindukanmu.” Zelo mengangguk. “memang rencana awalku akan menginap disini.”

“bagus, kau bisa mengantarku ke pernikahan temanku besok.”

“temanmu? Siapa?”

“Daehyun oppa. Besok ia akan menikah dengan teman sekolah dasar sekaligus tetanggaku waktu kecil. Maaf tidak bisa mengundangmu dan Bibi Lau ke acara pernikahanku dengan Daehyunnie oppa. Aku….kalah saing dengan Sang Jin.”

“Jae….”

“hei, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak apa-apa.” Zelo memeluk Han Jae. “jangan bodoh. Bagaimana tidak apa-apa? Aku mengenalmu selama tiga tahun.”

“….”

“menangislah…”

air mata Han Jae perlahan mengalir. “aku benci diriku zelo-ya….kenapa semua orang mudah sekali menebakku?”

@@@

Dan disinilah Han Jae. Terdampar di tempat ini. Menyaksikan laki-laki yang dicintainya menikahi wanita lain. Seharusnya….posisi Sang Jin adalah milik Han Jae. Hanya Kim Han Jae yang pantas di posisi itu. Dan sedari tadi Daehyun menatap Han Jae dalam. Tak henti-hentinya dia mengutuk dirinya yang termakan omongan Young Jae. “sttt, oppa!” Daehyun tersadar dari lamunanya. Kemudian membungkuk hormat pada Tuan Woo dan menggandeng tangan Sang Jin.

Dan inilah yang terpenting dalam sebuah pernikahan. Sebuah ikatan. “Jelo-ya, aku akan pulang. Sepertinya aku tidak enak badan.” Han Jae memberisikkan ke telinga zelo. “aku ikut.” Han Jae mengangguk kemudian berjalan meninggalkan tempat ini, sampai suatu suara menghentikan langkahnya. “Kajima! Jebal, Kajima Kim Han Jae.”

Han Jae membalikkan tubuhnya dan menatap Daehyun yang berjarak beberapa meter darinya tengah menatapnya penuh arti. “eomma, appa, maafkan aku. Terlebih lagi pada Sang Jin, Tuan dan Nyonya Woo, aku mohon maaf. Tolong maafkan aku. Sungguh, aku tidak ada maksud lain. Aku tidak bermaksud menjatuhkan nama siapapun. Setelah ini aku rela jika harus di penjara atau di hukum mati. Tapi dengarkan aku.”

“aku….tidak pernah mencintai Sang Jin. Meskipun aku sudah belajar untuk mencintainya seperti layaknya aku mencintai Han Jae, tapi aku tetap tidak bisa. Walaupun sudah satu tahun belajar mencintai Sang Jin, tetap saja hasilnya nihil. Perasaan ini, debar jantung ini, pikiran ini, hanya untuk Kim Han Jae.” Han Jae semakin membulatkan matanya. Ini gila. Jung Daehyun benar-benar gila.

“apa-apaan ini Tuan Jung Daehyun! Berani-beraninya kau berkata seperti itu di depan banyak orang!” Tuan Woo menatap kesal kearah Daehyun. “Appa, sudahlah. Yang di katakan Daehyun oppa benar. Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak bisa mencintaiku. Seandainya aku ada di posisi Dae oppa, aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan, orang macam apa aku jika aku memisahkan dua orang yang aku sayang?!”

“Sang Jin-ssi….” Sang Jin tersenyum ke arah Daehyun. “pergilah oppa, bicarakan semuanya dengan Han Jae dan ku harap ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan padamu. Jika kau melanggarnya, aku benar-benar akan membunuhmu Jung Daehyun.” Daehyun tersenyum “gomawo Sang Jin-ssi,” ia menghampiri Han Jae dan membawanya pergi dari tempat ini. Sedangkan Han Jae masih mencerna apa yang telah terjadi.

Daehyun memarkirkan mobilnya di depan taman. Han Jae keluar dari mobil dengan kesal. Mengabaikan panggilan dari Daehyun. “Kim Han Jae, kubilang berhenti.” Daehyun menarik tangan Han Jae. Membuat Han Jae menghentikan langkahnya.

“Kau gila Jung Daehyun! KAU PIKIR INI LUCU HAH?!”

“a—“

“Benar-benar laki-laki bodoh! Kau seorang Presdir dari perusahaan yang sukses, tapi kenapa kau tetap saja terlihat bodoh! Ini tidak lucu sama sekali Jung Daehyun-ssi.”

“dengarkan aku dulu…a—“

“aku tidak suka jika ada yang memainkan perasaan orang-orang terdekatku!”

“aku tidak mempermainkannya. Aku hanya jujur daripada ia tersiksa karena aku.”

“….”

“Jae…mungkin kau berfikir bahwa ini benar-benar hal bodoh. Aku tau aku sudah menyakiti Sang Jin. Tapi jika aku melakukan pernikahan ini, aku akan menyakiti dua orang sekaligus. Yaitu Kau dan Sang Jin.”

“….”

“seharusnya memang dari awal aku tidak terbuai dari kata-kata Young Jae waktu itu dan tetap setia dengan janjiku. Menunggumu kembali dan akan langsung menikahimu. Maafkan aku Jae, aku tidak menepati janjiku dengan baik. Aku tidak langsung menikahimu setelah kau kembali ke Korea. Jeongmal mianhae….” Han Jae memeluk tubuh Daehyun. Membuat Daehyun sedikit kaget.

“aku benar-benar membencimu Jung Daehyun. Bodoh. Keras kepala. Menyebalkan!” Han Jae membenamkan wajahnya di dada bidang Daehyun. Air matanya sudah keluar sedari tadi. Daehyun memeluk Han Jae.

“kau tau betapa aku sangat menunggu saat dimana aku bisa memelukmu lagi seperti ini?” Han Jae menganggukkan kepalanya pelan. Daehyun mendorong tubuh Han Jae pelan, membuat pelukannya terlepas. Mata Daehyun dan Han Jae saling bertemu. Memancarkan kasih sayang yang tak berkurang sedikitpun.

“Kim Han Jae, kalaupun saat itu aku tidak berjanji padamu, pada dasarnya jantung ini tetap tidak akan berdebar untuk wanita lain selain kau. Mata ini tetap tidak akan melihat wanita lain selain kau. Pikiranku tetap hanya ada dua wanita, kau dan ibuku dan ruang di hatiku hanya untukmu dan akan tertutup rapat sampai maut benar-benar memisahkan kita.”

“…..”

“Chagi-ya, menikahlah denganku.” Han Jae kembali menghambur ke pelukan Daehyun. Membenamkan kembali wajahnya di dada bidang Daehyun. “apakah ada pilihan ‘tidak’ untukku Tuan Jung?” Daehyun mencium kepala Han Jae lembut. “tentu saja tidak Nonya Jung.” Daehyun melepas pelukannya. Menatap lembut mata Han Jae. Masuk ke dalam pikirannya.

“Nyonya Jung….Saranghae….Jeongmal Saranghae…” kalimat itu. Kalimat yang terucap dari orang yang sangat Han Jae harapkan.

“Nado….Nado Saranghae, Tuan Jung….” Daehyun tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya, perlahan mata Han Jae tertutup. Satu centi lagi daaaannnn….. Drrrtttt…… Daehyun menjauhkan wajahnya, “oh sial! Handphone ini menganggu saja.” Han Jae hanya terkekeh pelan. “Lebih baik matikan saja.” Daehyun mengambil handphone di saku celananya, wajahnya berubah pucat pasi melihat nama yang tertera di layar handphonenya. “nugu?”

“eoh e-eomma?” Daehyun mengangkat teleponnya ragu.

“…………”

“A-araseo eomma.” Han Jae terkekeh melihat wajah ketakutan Daehyun. Pip. Daehyun memasukkan kembali Handphonenya ke saku celana. “OH SIAL! AKU LUPA SETELAH INI EOMMA AKAN MELEMPARKU DARI LANTAI DUA!!!” Daehyun menjambak rambutnya frustasi dan Han Jae hanya tertawa melihat betapa frustasinya calon suaminya itu.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s